MASALAH kesehatan jiwa tak hanya dialami orang dewasa. Anak dan remaja juga menjadi perhatian seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental.
Lantas, apakah masalah kesehatan jiwa yang banyak ditemukan di Indonesia? Apakah gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan depresi (depressive disorder)?
Dalam program Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone, Annelia Sari Sani, S.Psi yang merupakan psikolog dan Ketua Bidang Kemitraan dan Komunikasi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK ID) membeberkan masalah kesehatan jiwa yang paling banyak ditemukan di Indonesia. IPK Indonesia sendiri merupakan partner pengelolaan dan penyelenggaraan Program Bantuan Krisis Kesehatan Jiwa Healing119.id yang diselenggarakan oleh Kemenkes RI.
Menurut Anne, jika melihat masalah kesehatan jiwa berdasarkan diagnosis yang banyak ditemukan di Indonesia, terdapat beberapa kelompok gangguan yang perlu menjadi perhatian. Salah satunya adalah gangguan jiwa berat atau psikosis, termasuk skizofrenia.
Pada kondisi psikosis, seseorang dapat mengalami gangguan dalam menilai realitas atau reality testing. Kondisi tersebut berbeda dengan gangguan kecemasan maupun depresi yang memiliki karakteristik klinis tersendiri.
“Depresi kecemasan itu adalah hal berbeda. Tapi memang secara statistik, Indonesia itu masalah kesehatan jiwa itu yang menduduki 4 besar itu adalah gangguan jiwa besar atau psikosis atau diagnosisnya ada skizofrenia,” ujar Anne.
“Kalau kita ajak ngomong sudah enggak nyambung, enggak tahu ini siapa. Antara realitas dengan apa yang dia persepsikan itu berbeda. Nah itu gangguan jiwa berat,” lanjutnya.
Selain psikosis, Anne menyebut gangguan kecemasan dan gangguan mood seperti depresi sebagai masalah kesehatan jiwa yang banyak ditemukan. Masalah lain yang juga disebut adalah penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Penyalahgunaan NAPZA memang dikategorikan sebagai masalah kejiwaan atau gangguan mental dalam dunia medis yang dikenal sebagai gangguan penggunaan zat atau substance use disorder.
Dengan demikian, ketika membicarakan masalah kesehatan jiwa di Indonesia, pembahasannya tidak hanya terbatas pada kecemasan dan depresi. Ada spektrum gangguan yang lebih luas dengan penyebab, faktor risiko, dan karakteristik yang berbeda.
Anne menekankan bahwa penyebab seseorang mengalami gangguan kesehatan jiwa tidak bisa disederhanakan menjadi satu faktor. Berbagai kondisi dan pengalaman dapat berperan dalam munculnya masalah kesehatan jiwa.
“Lalu kedua adalah gangguan kecemasan. Ada juga gangguan mood depresi. Yang keempat adalah penyalahgunaan NAPZA. Itu masalah tertinggi untuk diagnosis yang jadi masalah di Indonesia,” jelas Anne.
“Tapi kalau kita harus membedakan, dari penyebab sampai muncul diagnosis tersebut, kalau ditanya akar penyebab masalahnya, kombinasinya bisa muncul berapa ratus ribu. Banyak sekali memang,” sambungnya.