Selain faktor biologis, pengalaman psikologis turut berperan dalam kesehatan jiwa. Cara seseorang memahami dirinya sendiri, menafsirkan pengalaman, mengelola emosi, dan menghadapi tekanan dapat memengaruhi kondisi mentalnya.
Pengalaman hidup tidak selalu menimbulkan gangguan jiwa. Namun, pengalaman tertentu dapat meningkatkan kerentanan seseorang, terutama apabila berlangsung berulang, terasa mengancam, atau terjadi ketika dukungan yang tersedia sangat terbatas.
Salah satunya adalah trauma dan pengalaman menyakitkan Pengalaman traumatis, seperti perundungan, kekerasan, pelecehan, penghinaan, kehilangan orang terdekat, atau pengalaman lain yang mengancam rasa aman, dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam.
Seseorang yang berulang kali mengalami perundungan, misalnya, dapat mulai memandang dirinya sebagai individu yang tidak berharga atau merasa bahwa orang lain akan selalu merendahkan dirinya. Pemikiran tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, dan keberaniannya dalam menghadapi situasi baru.
Pada sebagian orang, pengalaman traumatis dapat berkontribusi terhadap munculnya depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pascatrauma, atau masalah kesehatan mental lainnya. Namun, respons setiap orang terhadap trauma tidak selalu sama. Ada orang yang mengalami dampak psikologis berkepanjangan, sementara orang lain dapat pulih.
Kedua, ada pola pikir dan cara memandang diri sendiri. Pola pikir juga berperan dalam menentukan bagaimana seseorang merespons peristiwa yang dialaminya.
Sebagai contoh, seseorang dengan tuntutan yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri mungkin menganggap kesalahan kecil sebagai kegagalan besar. Ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan, ia dapat mengalami rasa bersalah, kecewa, atau cemas secara berlebihan.
Begitu pula dengan seseorang yang sangat bergantung pada pengakuan orang lain untuk merasa berharga. Kritik atau penolakan dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap harga dirinya, sehingga memicu tekanan emosional yang kuat.
Jika pola pikir tersebut berlangsung terus-menerus dan sulit diubah, seseorang mungkin semakin kesulitan menghadapi masalah sehari-hari. Dalam kondisi tertentu, pola tersebut dapat memperburuk gejala psikologis yang sudah ada.
Meskipun demikian, memiliki sifat perfeksionis, sensitif terhadap kritik, atau membutuhkan pengakuan tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental. Penilaian perlu mempertimbangkan keseluruhan pola perilaku, intensitas gejala, lamanya kondisi berlangsung, dan dampaknya terhadap kehidupan.
Ketiga, kemampuan mengelola emosi. Kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis. Seseorang yang kesulitan memahami perasaannya mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami ketakutan, kesedihan, atau kekecewaan.
Akibatnya, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk kemarahan, perilaku impulsif, menarik diri, atau konflik dengan orang lain. Kesulitan mengelola emosi dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk pengalaman masa kecil, pola hubungan dengan orang terdekat, stres berkepanjangan, dan kondisi biologis tertentu.
Kemampuan regulasi emosi dapat dikembangkan melalui proses belajar, dukungan yang memadai, dan psikoterapi apabila diperlukan. Tujuannya bukan menghilangkan seluruh emosi negatif, melainkan membantu seseorang memahami dan merespons emosinya secara lebih sehat.
“Jadi kita hidup, manusia hidup itu tidak bisa terpelas dari biopsikosal. Dari biologinya penyakit-penyakit kronis tadi atau pemakaian zat-zat adiktif seperti sabu, ganja, atau mungkin adiksi yg sekarang juga game online tuh masuk. Kalau misalnya adiksi game, adiksi gadget tuh masuknya adiksi juga,” tutur dr. Elly.
“Sekarang kalau misalnya dia bisa sampai mengganggu fungsi hidupnya juga. Selain itu ya faktor sosial misalnya pola asuh, mungkin juga lingkungan kerja yg toksik, atau mugkin dia sendiri punya ciri kepribadian tertentu yg kaku. Misalnya orang perfeksionis, mungkin orangnya sangat haus validasi yang sekarang terkenal NPD, atau mungkin orangnya sangat labih banget pada orang-orang dengan kepribadian borderline personality. Sosial sangat mempengaruhi,” sambungnya.
“Atau trauma misalnya, dia pasca di-bully, dikulitim atau dipermalukan di depan orang, atau ada kata-kata yang membuat kepercayaan dirinya runtuh. Bisa trauma-trauma seperti itu bisa membuat mereka jadi gangguan jiwa. Jadi faktor biopsikosal,” tukasnya.
(Djanti Virantika)