Permintaan Maaf Maudy Ayunda Jadi Sorotan Pengguna Threads, Begini Katanya dari Sisi Psikologis

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Rabu 23 September 2026 06:05 WIB
Maudy Ayunda minta maaf soal mindfulness. (Foto: dok Instagram/maudyayunda)
Share :

JAKARTA - Permintaan maaf Maudy Ayunda terkait polemik konten mindfulness yang diunggah pada Minggu (20/9/2026) kembali dibahas di media sosial. Kali ini, seorang pengguna Threads dengan akun @gigithefabacnh membuat analisis terhadap struktur bahasa yang digunakan Maudy dalam pernyataan maafnya.

Akun tersebut mengaku berkecimpung di bidang psikologi relasi publik. Namun, ia bukan psikolog dan analisis yang disampaikannya merupakan pandangan pribadi terhadap cara komunikasi Maudy dalam merespons polemik.

Dalam utasnya, @gigithefabacnh menyoroti penggunaan kata “aku” yang dianggap sangat dominan dalam pernyataan Maudy. Ia menyebut dari 13 kalimat dalam permintaan maaf tersebut, 10 di antaranya menggunakan kata “aku”.

“Permintaan maaf Maudy, 13 kalimat. 10 kalimat di antara 13 itu, selalu ‘Aku’,” tulis akun tersebut.

Menurutnya, persoalannya bukan semata-mata soal berapa kali kata “aku” digunakan, tetapi mengenai ke mana fokus permintaan maaf tersebut diarahkan. Ia menilai sebagian besar pernyataan Maudy lebih banyak menggambarkan proses refleksi dan pembelajaran dari sudut pandang dirinya dibandingkan menguraikan dampak yang dirasakan publik.

“Fokusnya bukan ke masyarakat yang dirugiin, tapi malah ke diri dia sendiri,” tulisnya.

Proses Pengembangan Diri

Analisis Permintaan Maaf Maudy Ayunda. (Foto: Tangkapan Layar Threads)

Dalam analisisnya, akun tersebut kemudian mengaitkan penggunaan kata ganti orang pertama dengan penelitian mengenai bahasa yang pernah dilakukan psikolog James W. Pennebaker.

Memang, penelitian tentang penggunaan kata ganti orang pertama menunjukkan bahwa kata seperti “I” atau “aku” dapat berkaitan dengan perhatian terhadap diri sendiri dalam konteks tertentu. 

Namun, penggunaan kata tersebut tidak bisa secara otomatis digunakan untuk menyimpulkan seseorang sedang berbohong, arogan, panik, atau memiliki niat tertentu.

Dalam utasnya, @gigithefabacnh menyoroti bagaimana pernyataan Maudy berkali-kali menggunakan struktur yang menempatkan dirinya sebagai subjek, seperti “Aku menyadari”, “Aku perlu banyak belajar”, hingga “Aku akan terus belajar”.

Menurut akun tersebut, pola itu membuat permintaan maaf Maudy terasa seperti catatan mengenai proses pengembangan diri.

“Jadinya berasa kayak catatan jurnal pribadi (self-growth journey),” tulisnya.

Ia kemudian membandingkannya dengan bentuk komunikasi yang lebih berfokus pada pihak yang terdampak. Menurutnya, permintaan maaf publik idealnya juga memberi ruang lebih besar untuk mengakui dampak yang dirasakan masyarakat.

Bukan hanya menjelaskan proses refleksi dari pihak yang meminta maaf. Bagian lain yang ikut dibedah adalah ketika Maudy mengakui adanya privilese dalam dirinya.

Dalam permintaan maaf yang diunggah pada 20 September 2026, Maudy memang menuliskan bahwa suara, akses, platform, dan berbagai bentuk privilese yang dimilikinya membawa tanggung jawab. Ia juga mengakui masih perlu belajar untuk lebih mendengar, peka, berempati, serta terbuka terhadap perspektif yang berbeda dari pengalamannya.

Namun, @gigithefabacnh menilai bagian tersebut masih kembali berpusat pada diri Maudy.

“Pengakuan privilese yang mengambang. Dia emang ada nyebut soal privilese. Tapi ujung-ujungnya ditutup dengan: ‘menggunakan ruang dan kapasitas yang aku punya’,” tulisnya.

Akun tersebut mempertanyakan apakah pengakuan mengenai privilese itu sudah cukup jika tidak disertai penjelasan mengenai langkah konkret untuk merespons dampak dari polemik yang terjadi.

Di sisi lain, dalam pernyataannya sendiri Maudy memang mengakui bahwa apa yang ia sampaikan telah menyebabkan kekecewaan dan kemarahan. Ia juga menulis bahwa perspektif dan konteks yang ia pertimbangkan sebelumnya belum cukup sehingga pesannya terasa jauh dari realita dan pengalaman yang dihadapi banyak orang.

Latar Pendidikan di Luar Negeri

Utas tersebut kemudian menyinggung latar pendidikan Maudy yang pernah menempuh pendidikan di Oxford dan Stanford. Menurut @gigithefabacnh, latar pendidikan tersebut tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari kemungkinan memiliki “blind spot” dalam berkomunikasi dengan publik.

Ia mengaitkan hal itu dengan apa yang disebutnya sebagai budaya growth mindset dan self-actualization yang menurutnya kuat dalam lingkungan pendidikan di Amerika Serikat.

“Narasi self-actualization dan personal journey itu kayak bisa dibilang DNA mereka,” tulisnya.

Ia juga menyebut istilah “good student syndrome” untuk menggambarkan kecenderungan orang yang terbiasa berprestasi menunjukkan bahwa dirinya mau belajar dan mampu melakukan refleksi ketika melakukan kesalahan.

Permintaan Maaf pada Publik

Di bagian akhir, @gigithefabacnh justru mengajak pembaca tidak berhenti pada perdebatan apakah permintaan maaf Maudy harus diterima atau ditolak.

Menurutnya, polemik tersebut dapat menjadi pembelajaran mengenai cara seseorang berkomunikasi ketika melakukan kesalahan, terutama ketika menyampaikan permintaan maaf kepada publik.

“Kita nggak perlu berlebihan membenci atau terlalu memaklumi juga. Anggap aja ini pelajaran berharga buat kita sendiri,” tulisnya.

Ia juga menekankan pentingnya tidak hanya menceritakan proses batin orang yang meminta maaf, tetapi juga memberikan perhatian kepada orang-orang yang merasa terdampak.

Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa siapapun, termasuk orang yang dianggap berprestasi, tetap dapat memiliki titik buta dalam berkomunikasi.

“Orang sekeren dan sepinter apa pun tetep bisa punya blind spot,” tulisnya.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya