Namun, penggunaan kata tersebut tidak bisa secara otomatis digunakan untuk menyimpulkan seseorang sedang berbohong, arogan, panik, atau memiliki niat tertentu.
Dalam utasnya, @gigithefabacnh menyoroti bagaimana pernyataan Maudy berkali-kali menggunakan struktur yang menempatkan dirinya sebagai subjek, seperti “Aku menyadari”, “Aku perlu banyak belajar”, hingga “Aku akan terus belajar”.
Menurut akun tersebut, pola itu membuat permintaan maaf Maudy terasa seperti catatan mengenai proses pengembangan diri.
“Jadinya berasa kayak catatan jurnal pribadi (self-growth journey),” tulisnya.
Ia kemudian membandingkannya dengan bentuk komunikasi yang lebih berfokus pada pihak yang terdampak. Menurutnya, permintaan maaf publik idealnya juga memberi ruang lebih besar untuk mengakui dampak yang dirasakan masyarakat.
Bukan hanya menjelaskan proses refleksi dari pihak yang meminta maaf. Bagian lain yang ikut dibedah adalah ketika Maudy mengakui adanya privilese dalam dirinya.
Dalam permintaan maaf yang diunggah pada 20 September 2026, Maudy memang menuliskan bahwa suara, akses, platform, dan berbagai bentuk privilese yang dimilikinya membawa tanggung jawab. Ia juga mengakui masih perlu belajar untuk lebih mendengar, peka, berempati, serta terbuka terhadap perspektif yang berbeda dari pengalamannya.
Namun, @gigithefabacnh menilai bagian tersebut masih kembali berpusat pada diri Maudy.