Menurutnya, polemik tersebut dapat menjadi pembelajaran mengenai cara seseorang berkomunikasi ketika melakukan kesalahan, terutama ketika menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
“Kita nggak perlu berlebihan membenci atau terlalu memaklumi juga. Anggap aja ini pelajaran berharga buat kita sendiri,” tulisnya.
Ia juga menekankan pentingnya tidak hanya menceritakan proses batin orang yang meminta maaf, tetapi juga memberikan perhatian kepada orang-orang yang merasa terdampak.
Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa siapapun, termasuk orang yang dianggap berprestasi, tetap dapat memiliki titik buta dalam berkomunikasi.
“Orang sekeren dan sepinter apa pun tetep bisa punya blind spot,” tulisnya.
(Agustina Wulandari )