Selain itu, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga faktor lain masih mungkin berperan terhadap hasil yang ditemukan.
“Mereka mungkin memiliki pola tidur, jadwal kerja, kondisi kesehatan, atau kebiasaan gaya hidup yang berbeda yang juga dapat memengaruhi risiko kardiovaskular,” katanya. “Saya akan melihat temuan ini sebagai alasan tambahan untuk memperhatikan lingkungan tidur kita, bukan sebagai bukti bahwa setiap sumber cahaya malam hari berbahaya.”
Karena itu, temuan tersebut belum menjadi alasan untuk melakukan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya tidak akan merekomendasikan perubahan gaya hidup besar seperti pindah rumah atau berganti pekerjaan hanya berdasarkan temuan ini. Kita membutuhkan penelitian jangka panjang yang mengukur paparan cahaya aktual seseorang secara lebih akurat sebelum mempertimbangkan perubahan yang lebih drastis,” kata Dr. Ni.
“Untuk saat ini, fokuslah pada hal-hal mendasar: ciptakan lingkungan tidur yang gelap dan nyaman, batasi penggunaan layar sebelum tidur, dan jadikan tidur berkualitas dan konsisten sebagai prioritas.”
Dengan demikian, menjaga kamar tetap nyaman dan minim cahaya dapat menjadi salah satu bagian dari kebiasaan tidur sehat. Namun, kesehatan jantung tetap perlu dijaga secara menyeluruh melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, serta pengelolaan faktor risiko lainnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)