“Kayak istilahnya dia mandornya gitu ya,” sambung dr. Nana.
Sementara itu, natif collagen memiliki pendekatan berbeda. Teknologi ini memberikan semacam struktur atau kerangka yang dapat mendukung proses regenerasi jaringan kulit.
“Nah, sedangkan si natif collagen ini, dia itu yang ngasih scaffolding atau kerangka si collagennya. Jadi, kulit itu tinggal melanjutkan proses regenerasi gitu,” tutur dr. Nana.
Meski memiliki mekanisme yang berbeda, dr. Nana mengatakan kedua jenis perawatan tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang serupa, yakni membantu memperbaiki kualitas kulit.
“Jadi, sebenarnya tujuannya sih sama-sama aja untuk memperbaiki kualitas kulit, untuk anti-aging, biar kulitnya itu kencang. Cuma cara kerjanya aja yang berbeda,” katanya.