JAKARTA - Kehadiran Asisten Rumah Tangga (ART) di tengah rumah tangga Christine justru disebut menjadi awal dari konflik yang berujung panjang. Christine mengaku mengalami berbagai persoalan sejak Yuni Asih bekerja di rumahnya pada Juli 2025.
Menurut Christine, sejak awal dirinya bahkan tidak mengetahui identitas lengkap ART tersebut. Ia mengaku sempat meminta suaminya, Alpriado Osmond (AO), menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) Yuni Asih demi memastikan keamanan dan kenyamanan di rumah.
Namun, permintaan tersebut disebut tidak dipenuhi. Christine pun mengaku mulai merasa curiga dengan keberadaan Yuni Asih di rumah.
"Sekilas tentang ART saya ini dia datang ke rumah di Juli 2025 tanpa saya tahu identitasnya. Saya sudah coba minta, layaknya kita ibu-ibu di rumah ya, saya minta ditunjukkan KTP yang bekerja di anak saya. Karena terkait keamanan, kenyamanan, saya juga perlu tahu dong identitas ART yang bekerja di rumah," ujar Christine dalam Podcast Herspective yang tayang di Youtube Vibes.
"Namun, oleh suami AO tidak diberikan. Saya curiga, tiba-tiba datang ke rumah, diperkenalkan sebagai ART di rumah, saya minta KTP-nya ditunjukkan oleh suami AO dan Yuni Asih tidak memperlihatkan," sambungnya.
Christine mengatakan persoalan tidak berhenti pada identitas Yuni Asih. Ia mengaku kesulitan mengatur pekerjaan rumah tangga dan menilai ART tersebut tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya.
Menurut Christine, anaknya juga tidak mendapatkan pengasuhan yang optimal setelah pulang sekolah. Saat itu, Christine mengaku masih harus bekerja sehingga berharap keberadaan ART dapat membantu mengurus kebutuhan anak.
"Dan langsung membangkang. Dia tidak mau saya ajarin tentang mengerjakan apa, selesai mengerjakan apa. Kenal dari mana juga saya tidak tahu. Dan sehariannya di rumah, dia tidak mau bekerja," tutur Christine.
"Anak saya juga tidak terurus pulang sekolah. Pada saat itu kan saya bekerja, jadi anak saya pulang sekolah pun tidak terurus," lanjutnya.
Christine juga menuding Yuni Asih menggunakan sejumlah barang pribadinya tanpa izin. Ia mengaku persoalan tersebut sudah terlihat sejak awal ART tersebut bekerja.
"Hari kedua sudah langsung membangkang. Memakai barang pribadi saya tanpa izin. Terus kemudian dia memegang hak akses kunci lemari pakaian pribadi suami," katanya.
Persoalan lain yang dipermasalahkan Christine adalah cara Yuni Asih berinteraksi dengan anaknya.
Christine mengklaim anaknya diajarkan untuk memanggil Yuni Asih dengan sebutan "bunda". Menurut dia, suaminya mengetahui hal tersebut dan tidak melarang.
"Kemudian anak saya diajarin untuk memanggil bunda. Ya, anak saya oleh ART Yuni Asih. Memanggil bunda ke ART dan suami diam saja, malah mendapat dukungan," ujar Christine.
Christine juga mengaku memiliki dokumentasi terkait sejumlah perilaku yang menurutnya menjadi persoalan selama Yuni Asih berada di rumah.
Konflik antara Christine dan Yuni Asih disebut semakin memanas. Christine mengklaim dirinya pernah mengalami perlakuan yang membuatnya merasa terancam, termasuk mengaku hampir dipukul menggunakan sapu.
"Bahkan saya pernah hampir dipukul pakai sapu. Dan suami juga diam saja," ucapnya.
Christine juga mengaku pernah dilarang menganggap rumah yang ditempatinya sebagai miliknya. Ia menyebut dirinya bahkan pernah diusir oleh ART tersebut.
"Begitu juga kelakuan ART, saya dibilang tidak punya hak atas rumah itu. Padahal saya bilang secara hukum, apa pun yang dibeli setelah menikah itu menjadi harta bersama," kata Christine.
"Tapi dibilang itu bukan rumah saya. Malah saya diusir," sambungnya.
Christine juga mengklaim Yuni Asih kerap memanggilnya dengan nama lengkap serta melontarkan perkataan yang dianggap menghina keluarganya.
"Dan dia selalu memanggil nama saya dengan nama panjang saya. Juga menghina keluarga saya. Notabene dia belum pernah ketemu," tutur Christine.
Perselisihan tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan hukum. Yuni Asih disebut membuat laporan dugaan penganiayaan terhadap Christine.
Pihak Christine membantah tuduhan tersebut. Kuasa hukumnya, Friska Gultom, S.H., menyebut terdapat anak Christine yang berada di lokasi kejadian dan memberikan keterangan kepada penyidik.
Menurut Friska, anak berinisial JAS menyatakan tidak melihat adanya tindakan penganiayaan yang dilakukan Christine terhadap Yuni Asih.
Pihak Christine juga menyebut Yuni Asih justru menghalangi dan menahan JAS ketika Christine hendak menjemput anaknya.
Atas perkara tersebut, Friska mempertanyakan proses penyidikan yang berjalan di Polres Metro Tangerang Kota. Ia menilai keterangan anak yang disebut berada di lokasi kejadian perlu menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan.
"Mengapa kesaksian polos dan jujur dari seorang anak yang melihat langsung kejadian justru dikesampingkan demi membela laporan seorang ART yang diduga kuat disetir oleh Alpriado Osmond? Ada apa dengan Polres Metro Tangerang Kota?" ujar Friska.
Pihak Christine juga disebut telah melaporkan balik Yuni Asih ke Polres Metro Tangerang Kota atas dugaan tindak pidana terkait perlindungan anak dan perampasan kemerdekaan.
Friska mengatakan pihaknya telah mengajukan permohonan Gelar Perkara Khusus kepada Mabes Polri dan Polda Metro Jaya. Permohonan tersebut disebut diajukan untuk meminta penanganan perkara diperiksa secara menyeluruh.
Menurut Friska, persoalan hukum tersebut tidak dapat dilepaskan dari konflik rumah tangga Christine dan Alpriado Osmond. Keduanya juga tengah menghadapi proses perebutan hak asuh anak di Pengadilan Negeri Tangerang.
Pihak keluarga dan kuasa hukum Christine mendesak Kapolri, Irwasum Mabes Polri, serta Kompolnas ikut memeriksa proses penanganan perkara tersebut.
"Saya minta dengan tegas agar penyidikannya dihentikan," kata Friska.
Sementara itu, proses hukum terkait laporan dugaan penganiayaan dan persoalan hak asuh anak masih berjalan. Berbagai tudingan yang disampaikan Christine maupun kuasa hukumnya juga masih merupakan versi dari pihak mereka dan perlu dikonfirmasi kepada pihak Alpriado Osmond, Yuni Asih, serta aparat penegak hukum terkait.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)