Dokter Shelly juga menegaskan, risiko kehamilan usia muda adalah karena rahim belum siap untuk menampung bayi, maka implantasi janin tidak bagus.
“Risikonya, satu, preeklamsi sangat tinggi pada kehamilan remaja atau keracunan kehamilan dan itu resiko buat ibu maupun bayi. Setelah itu resiko janin yang prematur, janin yang ukurannya kecil, itu akan menjadi masalah baru bagi si ibu dan bayi,” kata dr. Shelly.
Selain dari hormon anatomi, lanjutnya, psikososial yang belum matang pada saat melakukan pernikahan dan kalau ibunya sendiri belum matang, belum siap untuk menanggung kehamilannya, risiko baby blues.
“Pada saat dia punya anak mungkin juga akan menjadi hambatan tersendiri untuk tumbuh kembang si anak baik secara nutrisi maupun psikologisnya untuk membesarkan satu generasi yang baru,” katanya.
“Jadi memang banyak banget hal-hal yang harus dipertimbangkan apalagi di zaman sekarang ini tentang pernikahan remaja, edukasi seksualnya harus dilakukan kayaknya di sekolah-sekolah bahwa seks pada remaja itu resikonya jauh lebih banyak daripada keuntungannya bahkan mungkin gak ada kali untungnya seks pada remaja,” ucap dr. Shelly.
(Agustina Wulandari )