Azhar menekankan bahwa penerapan teknologi tersebut tidak seharusnya berhenti pada satu tindakan medis. Pemerintah menargetkan pengetahuan dan keterampilan terkait penggunaan LVAD dapat dikembangkan menjadi bagian dari pelatihan tenaga kesehatan di berbagai daerah.
“Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan,” tambah Azhar.
Sementara itu, Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo, menyatakan keberhasilan implantasi tersebut menunjukkan kemampuan tenaga medis Indonesia dalam mengadopsi teknologi kesehatan terbaru. RSCM juga dipersiapkan menjadi salah satu pusat pelatihan bagi rumah sakit lain di kawasan Asia yang ingin mempelajari teknologi serupa.
Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM, Birry Karim, menjelaskan bahwa prosedur implantasi LVAD melibatkan kolaborasi tim multidisiplin, mulai dari dokter spesialis jantung, dokter bedah jantung, hingga intensivis.
Menurutnya, program penanganan gagal jantung lanjut di RSCM telah dikembangkan secara sistematis sejak 2017 untuk memastikan pasien memperoleh penanganan secara terpadu.
Mengenai kondisi pasien pertama yang menjalani implantasi tersebut, Birry mengatakan perkembangannya cukup baik. Pasien telah dapat dilepas dari ventilator dalam waktu kurang dari 24 jam dan kini menjalani tahap latihan mobilisasi.