MEDAN – Sebuah penelitian klinis mengkaji potensi probiotik sebagai terapi pendamping (adjuvant therapy) dalam penanganan jerawat ringan hingga sedang. Penelitian tersebut melibatkan 64 pasien dan berlangsung selama delapan minggu.
Hasil penelitian dipaparkan dalam rangkaian Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) 2026 yang berlangsung pada 6–8 Agustus 2026 di Medan.
Penelitian bertajuk “Terapi Adjuvan Berbasis Mikrobioma menggunakan Probiotik dan Secretome pada Pasien Acne Vulgaris” dilakukan melalui uji klinis acak tersamar ganda (double-blind randomized controlled trial).
Penelitian melibatkan pasien berusia 13-45 tahun dengan jerawat ringan hingga sedang. Selama delapan minggu, penelitian dilakukan di Departemen Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Umum Bali Mandara.
Seluruh peserta mendapatkan terapi standar jerawat. Mereka kemudian secara acak dibagi ke dalam empat kelompok dengan tambahan terapi (adjuvant) yang berbeda.
Kelompok kontrol negatif memperoleh plasebo. Sementara tiga kelompok uji masing-masing mendapatkan terapi adjuvan probiotik oral, secretome topikal, serta kombinasi probiotik oral dan secretome topikal.
Perbaikan kondisi jerawat dievaluasi menggunakan Michaelsson Acne Score, yang menilai tingkat keparahan berdasarkan jumlah dan jenis lesi jerawat.
Penurunan Lesi Inflamasi
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang menerima probiotik, secretome, maupun kombinasi probiotik dan secretome mengalami penurunan skor lesi inflamasi yang signifikan (p<0.05) dibandingkan kelompok yang hanya menerima terapi standar dengan placebo (p>0,05).
Penurunan skor inflamasi terbesar ditemukan pada kelompok kombinasi, yakni −7,38. Selanjutnya kelompok probiotik mengalami penurunan sebesar −7,06, sedangkan kelompok secretome sebesar −4,13.
Sementara itu, untuk skor total jerawat yang mencakup lesi inflamasi dan non-inflamasi, penurunan terbesar tercatat pada kelompok probiotik sebesar −9,25.
Penurunan berikutnya terdapat pada kelompok kombinasi sebesar −8,56 dan kelompok secretome sebesar −5,72.
Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sekaligus Supervisor Research, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan mengenai hubungan kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis.
“Penelitian ini berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin menunjukkan adanya hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis. Kami ingin mengeksplorasi lebih jauh bagaimana pendekatan berbasis mikrobioma, termasuk penggunaan probiotik, berpotensi mendukung terapi jerawat yang telah ada,” kata Keri.
Keri menekankan bahwa hasil uji klinis tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah yang masih berlangsung.
“Uji klinis ini memberikan landasan saintifikasi penggunaan probiotik sebagai terapi pendamping (adjuvant terapi) pada jerawat. Tentunya hasil penelitian ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah yang masih terus berkembang dan tetap membutuhkan penelitian lanjutan untuk memperkuat pemahaman mengenai mekanisme maupun manfaat klinisnya,” tambah Keri.
Pendekatan berbasis mikrobioma dalam penelitian tersebut berkaitan dengan berkembangnya kajian mengenai hubungan mikrobiota usus dan kesehatan kulit. Probiotik dan secretome dieksplorasi sebagai terapi pendamping untuk melengkapi terapi jerawat yang telah tersedia.
Dorong Penguatan Riset Berbasis Bukti
Dalam rangkaian PIT IAI 2026, hasil penelitian tersebut diperkenalkan bersama pembahasan mengenai perkembangan pengetahuan terkait mikrobioma dan probiotik.
Medical Indonesia, melalui Bcrobes, juga meluncurkan buku Transformasi Paradigma Probiotik: Generasi Baru Kesehatan Berbasis Mikrobioma. Buku tersebut membahas kesehatan usus, keseimbangan mikrobiota, serta pemanfaatan probiotik berdasarkan literatur ilmiah dan bukti klinis.
Prof. Dean Lee Heng Yee, Director of Bcrobes Group, mengatakan perkembangan ilmu mikrobioma perlu berjalan bersama penelitian dan bukti ilmiah.
“Bcrobes percaya bahwa inovasi kesehatan harus berjalan bersama dengan penelitian dan bukti ilmiah. Karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pengembangan produk, tetapi juga mencakup dukungan terhadap penelitian, publikasi ilmiah, serta edukasi yang dapat membantu tenaga kesehatan dan masyarakat memperoleh informasi yang kredibel,” ujar Prof. Dean Lee Heng Yee.
Sementara itu, Dr. Kaley Oon Seok Fang, Medical Affairs Director Bcrobes, mengatakan hasil penelitian tersebut menjadi langkah awal untuk mengeksplorasi lebih jauh potensi probiotik dalam mendukung terapi jerawat.
“Hasil ini membuka ruang untuk memahami lebih jauh hubungan antara mikrobiota usus dan kesehatan kulit. Ke depan, kami akan terus mendorong riset dan kolaborasi dengan akademisi serta tenaga kesehatan agar potensi ini dapat dikaji lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Kaley.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia periode 2022-2026, Apt. Noffendri Roestam, S.Si., juga menyoroti pentingnya penelitian berbasis bukti ilmiah dalam pengembangan praktik kefarmasian dan pelayanan kesehatan.
“Penelitian berbasis bukti ilmiah merupakan fondasi penting dalam meningkatkan kualitas praktik kefarmasian dan pelayanan kesehatan. Kami berharap semakin banyak apoteker Indonesia yang turut berkontribusi melalui penelitian, inovasi, dan kolaborasi sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat,” ujar Noffendri.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Bcrobes menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan PharmaQ sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap Hexbio melalui platform IAI Mart.
Bcrobes juga mengukuhkan kolaborasi dengan mitra strategis apotek Alpro Indonesia yang sekaligus menegaskan ketersediaan Hexbio di jaringan ritel apotek Alpro Indonesia. Upaya ini didukung oleh PT. Yung Shin Pharmaceutical Indonesia sebagai mitra distribusi Hexbio di Indonesia.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya potensi pendekatan berbasis mikrobioma sebagai terapi pendamping jerawat. Namun, sebagaimana disampaikan peneliti, temuan ini masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk memperkuat pemahaman mengenai mekanisme maupun manfaat klinisnya.
(Khafid Mardiyansyah)