JAKARTA - Pernahkah kamu merasakan nyeri yang menusuk di area bokong setelah duduk berjam-jam saat bekerja? Rasa sakit yang terkadang menjalar hingga ke kaki ini kerap membuat resah karena gejalanya yang menyerupai saraf kejepit.
Namun, tidak semua nyeri di area tersebut disebabkan oleh masalah pada saraf tulang belakang. Dalam dunia medis, kondisi ini sering merujuk pada Piriformis Syndrome.
Dokter Spesialis Saraf dan Intervensi Nyeri Fajar Rudy Qimindra dalam unggahan video di akun Instagramnya mengingatkan masyarakat untuk mulai peka terhadap sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh tubuh. Menurutnya, pemahaman mengenai kondisi ini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sejak dini sebelum mengganggu mobilitas harian.
“Kenali gejala awal piriformis syndrome. Nyeri bokong menjalar ke kaki yang mirip saraf kejepit,” kata dr. Fajar, dikutip Minggu (9/8/2026).
Menariknya, keluhan ini kerap dipicu oleh kebiasaan sederhana yang tanpa sadar sering kita lakukan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan duduk terlalu lama saat bekerja, posisi jongkok, berdiri dengan satu kaki, hingga tekanan saat buang air besar. Aktivitas-aktivitas harian inilah yang berpotensi memicu ketegangan pada otot piriformis di area bokong.
Dokter Fajar menjelaskan bahwa ada tiga tanda utama yang perlu diwaspadai sejak awal. Sensasi tidak nyaman ini umumnya tidak berdiam di satu titik, melainkan menyebar mengikuti jalur saraf.
“Tiga gejala awal piriformis syndrome. Nyeri bokong karena hal yang sepele, duduk terlalu lama, jongkok, berdiri satu kaki, dan buang air besar. Nyeri bokong ini menjalar sampai ke paha, betis, sampai kaki. Kesemutan dan mati rasa menjalar juga sampai kaki,” ucapnya.
Bagi kamu yang mulai merasakan ketidaknyamanan tersebut, penanganan mandiri dan perubahan gaya hidup dapat menjadi langkah awal pemulihan. Salah satu kebiasaan kecil yang kerap diabaikan pria, seperti menyimpan dompet tebal di saku belakang celana saat duduk, juga harus segera dihentikan karena memberikan tekanan asimetris pada otot dan saraf bokong.
“Bagaimana solusinya? Konsumsi obat antinyeri antiradang, terapi fisik, modifikasi gaya hidup, dan turunkan berat badanmu. Jangan lupa, jangan duduki dompetmu di belakang, dan fisioterapi bisa jadi pilihan solusi,” ungkap dr. Fajar.
Jika keluhan belum membaik melalui penyesuaian gaya hidup dan fisioterapi, prosedur medis tingkat lanjut yang minim invasif dapat menjadi opsi berikutnya. Perkembangan teknologi kedokteran saat ini memungkinkan penanganan nyeri dilakukan secara sangat presisi.
“Jika masih nyeri, konsul dokter untuk intervensi nyeri berupa suntikan dengan panduan USG. Dari mulai steroid, dekstrose, PRP, sampai dengan suntikan botoks juga bermanfaat,” katanya.
Guna mencegah sekaligus meringankan ketegangan otot secara mandiri di rumah atau sela-sela jam kerja, dr. Fajar menyarankan gerakan peregangan sederhana (piriformis stretching) yang mudah dipraktikkan.
“Latihan piriformis stretching. Duduk seperti ini, silangkan kaki di bokong yang sakit, badan condong ke depan, rasakan tarikan di pangkal bokong. Tahan 10 sampai 15 detik, ulangi 10 sampai 15 kali,” tuturnya.
Dengan mengenali gejala awal dan mengoreksi postur serta kebiasaan harian, Piriformis Syndrome dapat diatasi secara efektif tanpa harus mengganggu produktivitas dan kualitas hidup kamu.
(Agustina Wulandari )