MENENTUKAN waktu tidur yang tepat bukan hanya soal tidur lebih awal. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan durasi tidur cukup dan jadwal tidur-bangun dilakukan secara konsisten setiap hari.
Pada dasarnya, tubuh memiliki ritme sirkadian, yaitu sistem internal yang membantu mengatur kapan kita merasa mengantuk dan kapan tubuh lebih siap untuk beraktivitas. Ritme ini umumnya mengikuti pola terang dan gelap sehingga banyak orang secara alami merasa lebih mengantuk pada malam hari dan lebih mudah terjaga pada pagi hari.

Lantas, kapan waktu terbaik untuk tidur dan bangun? Dilansir dari Healthline, ternyata beda umur, beda jam tidur loh.
Tidak ada satu jam tidur yang berlaku sama untuk semua orang. Waktu tidur ideal bergantung pada jam berapa Anda harus bangun serta berapa lama waktu tidur yang dibutuhkan.
Bagi kebanyakan orang dewasa, tidur setidaknya 7 jam setiap malam merupakan rekomendasi umum. Karena itu, kamu bisa menentukan waktu tidur dengan menghitung mundur dari waktu bangun.
Misalnya, jika harus bangun pukul 06.00 pagi, kamu sebaiknya sudah mulai bersiap tidur sekitar pukul 22.00 dan berusaha tertidur sebelum pukul 23.00. Hal itu penting dilakukan demi mendapatkan setidaknya 7 jam tidur.
Hal terpenting bukan sekadar tidur lebih awal. Tapi, kamu harus memiliki jadwal yang dapat dipertahankan secara konsisten.
Ritme sirkadian merupakan semacam "jam biologis" tubuh yang bekerja dalam siklus sekitar 24 jam. Sistem ini membantu mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk rasa kantuk dan kewaspadaan.
Secara alami, manusia cenderung mengalami peningkatan rasa kantuk pada malam hari. Setiap orang juga dapat mengalami penurunan kewaspadaan pada waktu tertentu di siang hari.
Ketika waktu tidur dan bangun relatif sama setiap hari, tubuh dapat menyesuaikan diri dengan jadwal tersebut. Akibatnya, kamu mungkin lebih mudah mengantuk pada waktu tidur dan terbangun secara alami menjelang waktu bangun.
Sebaliknya, jadwal tidur yang sering berubah, bekerja dengan sistem shift, atau tidur sangat larut pada akhir pekan dapat mengganggu pola tersebut. Hal ini juga bisa membuat tubuh lebih sulit menyesuaikan diri.