dr. Azra menuturkan bahwa teknologi perangkat LVAD dikenal sangat tahan lama (durable) dan memungkinkan pasien untuk kembali beraktivitas normal. Kendati demikian, penggunaannya di Indonesia masih sangat terbatas. Sejauh ini baru ada satu tindakan pemasangan di dalam negeri, sementara sebagian warga negara Indonesia lainnya memilih menjalani prosedur tersebut di luar negeri.
Direktur Utama RSCM, Dr. dr. Supriyanto Dharmoredjo menyampaikan bahwa masuknya teknologi LVAD ke RSCM merupakan angin segar bagi pelayanan medis nasional. “Alat ini semacam pompa air, jadi di bilik kiri mompanya ke aorta, ke seluruh tubuh, itu digantikan oleh alat ini. Dengan begitu, kita enggak perlu lagi transplan jantung dan umur pakai alat ini bisa lebih dari sembilan tahun," tutur Dr. Supriyanto.
Ia juga berharap RSCM dapat menjadi wadah pelatihan bagi para bedah jantung di seluruh Indonesia agar pemanfaatan teknologi LVAD semakin meluas dan mendorong peningkatan usia harapan hidup masyarakat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)