PENGGUNAAN ponsel pintar (smartphone) kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari urusan pekerjaan hingga hiburan seperti scrolling media sosial, gadget hampir selalu ada di genggaman.
Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada kebiasaan sepele yang kerap tidak disadari banyak orang, yakni menopang bobot ponsel menggunakan satu jari kelingking di bagian bawah. Jika dibiarkan terus-menerus, gaya memegang HP seperti ini ternyata menyimpan risiko bagi kesehatan struktur tangan.

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, menyoroti fenomena tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap posisi tangan saat memegang perangkat seluler.
"Hayo ngaku, pas lagi pegang handphone pasti jari kelingking kamu posisinya di bawah buat nahan beban HP. Hati-hati, kebiasaan sepele ini bisa bikin bentuk jari kamu bisa berubah secara permanen," ujar dr. Aditya.
dr. Aditya menjelaskan bahwa dalam istilah medis, fenomena penekanan jari akibat bobot gawai ini sering kali disebut sebagai smartphone pinky syndrome. Meski istilah tersebut belum menjadi diagnosis medis resmi tersendiri, dampaknya terhadap fisik nyata adanya akibat tekanan mekanis yang terjadi berulang kali.
Menurut dr. Aditya, bobot ponsel pintar yang terus ditumpuk pada satu titik sendi kelingking dalam durasi panjang akan memberi beban berat pada area tersebut. Akibatnya, sendi dan jaringan lunak di sekitar kelingking mengalami tekanan konstan yang berpotensi memicu masalah kesehatan tangan.
"Selain itu, kalau kita bicara anatomi, sendi interphalangeal kelingking ini bisa mengalami peradangan akibat repetitive strain injury yang memicu nyeri dan kekakuan. Bahkan dalam jangka panjang, tekanan berlebih pada jalur saraf ulnaris itu juga bisa memicu sensasi kesemutan atau kebas di area jari manis dan kelingking," jelas dia.