Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Teknologi Bedah untuk Penyakit Jantung dengan Minimal Invasif

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Jum'at, 31 Juli 2026 |21:04 WIB
Mengenal Teknologi Bedah untuk Penyakit Jantung dengan Minimal Invasif
Mengenal Teknologi Bedah untuk Penyakit Jantung dengan Minimal Invasif (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Perkembangan teknologi di bidang bedah jantung menghadirkan pilihan penanganan yang semakin beragam bagi pasien penyakit jantung koroner. Salah satu inovasi yang berkembang adalah teknik bedah minimal invasif yang memungkinkan operasi bypass dilakukan melalui sayatan lebih kecil dibandingkan metode konvensional, sehingga dapat mengurangi trauma jaringan dan mempercepat proses pemulihan pasien.

Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85 persen pada seluruh kelompok usia. Salah satu kondisi yang kerap memerlukan tindakan operasi ialah penyakit jantung koroner, yakni penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak.

Penyumbatan tersebut menghambat aliran darah dan oksigen menuju otot jantung. Akibatnya, penderita dapat mengalami nyeri dada, sesak napas, mudah lelah, gangguan irama jantung, hingga serangan jantung. Pada kasus tertentu, ketika pengobatan dengan obat-obatan atau pemasangan stent tidak lagi efektif, operasi bypass menjadi salah satu pilihan terapi.

Teknik Bedah dengan Sayatan Lebih Kecil

Selama bertahun-tahun, operasi bypass jantung dilakukan melalui metode bedah terbuka dengan membelah tulang dada agar dokter dapat mengakses jantung secara langsung. Teknik ini telah menjadi standar penanganan penyakit jantung koroner, namun memerlukan masa pemulihan yang relatif lebih lama.

Kini, berkembang pendekatan Minimally Invasive Cardiac Surgery Coronary Artery Bypass Graft (MICS CABG). Pada prosedur ini, dokter tetap membuat jalur baru untuk mengalihkan aliran darah melewati pembuluh yang tersumbat, tetapi dilakukan melalui sayatan kecil di sela tulang rusuk tanpa membelah tulang dada.

bedah jantung

Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi cedera pada jaringan, menekan nyeri pascaoperasi, serta membantu pasien menjalani proses pemulihan lebih cepat dibandingkan teknik konvensional.

Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Konsultan Jantung Dewasa Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), menjelaskan bahwa teknik minimal invasif memungkinkan pasien pulang dari rumah sakit dalam waktu yang relatif lebih singkat apabila kondisi klinis mendukung.

"Kalau minimal invasif, pasien bisa lima hari pulang dari rumah sakit, kemudian beraktivitas seperti biasa," ujarnya.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement