Jika biasanya dalam satu hari Chandra bisa menjual 50 hingga 100 cup kopi, saat Ramadhan kali ini justru ia hanya bisa menjual 20 hingga 30 cup kopi. Itu pun dengan keringanan target dari sang pemilik yang sebelumnya menargetkan penjualan setiap hari hingga 50 cup menjadi 35 cup per hari.
Hal itu juga dibarengi dengan tantangan dan ujian kesabaran tersendiri, di mana ia harus bersabar saat berjualan di pagi atau siang hari. Sebab biasanya, dagangannya baru banyak dibeli saat sore hari menjelang waktu berbuka puasa.
“Penjualan juga yang biasanya bisa kita dapat satu hari penjualan 50 cup, 80 cup, bisa sampai 100 juga. Nah, ini paling mentok ya 30, 20 gitu. Itu pun ramainya pas sore-sore mau berbuka puasa, kalau pagi susah. Kalau untuk jelang berbuka ada saja, Alhamdulillah ada yang buat buka puasa juga ada, sampai malam juga ada,” kata dia.
Sehari-hari ia berkeliling di sekitar Tanah Abang dan kawasan perkantoran di Jakarta Pusat. Adanya pembeli yang tidak menjalankan ibadah puasa saat siang hari justru menjadi rezeki bagi dirinya untuk mendongkrak target penjualan.
“Ya, di daerah Tanah Abang yang selalu banyak takjil, di situ doang. Kadang muter-muter gitu kalau siang di kantoran. Kebantu, jelas kebantu (pembeli di siang hari yang tidak berpuasa),” ungkap Chandra.