Kisah Sedih Ibu dan Bayi di Papua Meninggal Usai Ditolak 4 RS

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Rabu 26 November 2025 07:38 WIB
Kisah Sedih Ibu dan Bayi di Papua Meninggal Usai Ditolak 4 RS (Foto: Instagram)
Share :

JAKARTA – Kisah sedih seorang ibu dan bayi dalam kandungan meninggal usai ditolak empat Rumah Sakit (RS) di Papua. Peristiwa terjadi pada 16 November 2025, ibu bernama Irene Sokoy mengalami kontraksi di Kampung Kensio, Danau Sentani.

Nihilnya fasilitas kesehatan di kampung itu membuat keluarga membawa Irene menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari menggunakan speedboat. Adapun jarak antara Kampung Kensio dan RSUD Yowari sekitar 30 kilometer dengan estimasi waktu tempuh 40–50 menit.

Adik Irene Sokoy menceritakan, setibanya di RS Yowari pukul 15.00, mereka langsung melakukan pemeriksaan awal. Hasil pemeriksaan mencatat tensi ibu normal, detak jantung bayi stabil, dan pembukaan mencapai lima sentimeter. Perawat bilang semuanya masih normal.

Namun karena pembukaan tak berubah, Irene dipindahkan ke ruang bersalin untuk pemantauan lebih lanjut pada pukul 18.00 WIT. Di sana, perawat menghubungi dokter jaga untuk meminta arahan medis.

Dokter kemudian menyarankan pemberian obat perangsang untuk mempercepat proses persalinan. Keluarga diminta menebus resep obat di apotek rumah sakit. Ivan menyebut ada empat jenis obat perangsang yang diberikan.

"Ada empat jenis obat, yang pertama cairan, kedua antibiotik sama obat perangsang," paparnya dilansir dari BBC.

Pada pukul 20.00 WIT, air ketuban Irene pecah. Namun kondisi jantung janin menurun dan dokter menyarankan untuk operasi. Sayangnya, dokter kandungan di RSUD Yowari tak berada di tempat. Pihak rumah sakit kemudian merujuk pasien ke RS Dian Harapan.

Alfonsina Kabey, ipar Irene yang mendampingi proses rujukan, mengaku panik karena kondisi Irene semakin melemah, namun tidak ada dokter yang menangani.

"Kalau memang tidak ada dokter, kenapa waktu terima tidak kasih tahu? Kami bisa ambil keputusan dari awal," ujarnya.

Keluarga meminta agar Irene segera dirujuk ke rumah sakit berikutnya, namun ambulans tak kunjung tersedia.

"Kita tunggu dari jam 11 sampai jam 01.22 baru ambulans tiba. Sementara dia sudah sangat sakit dan gelisah, teriak terus," kata Alfonsina.

Setibanya di Rumah Sakit Dian Harapan Waena, pasien tak bisa dirawat dengan alasan ruangan penuh. Lalu keluarga lanjut ke RSUD Abepura. Alih-alih bisa mendapat perawatan, keluarga mengaku hanya mendapat penjelasan singkat bahwa ruang operasi di RSUD Abepura sedang direnovasi sehingga pasien tidak bisa ditangani di fasilitas tersebut.

Atas arahan RSUD Abepura, keluarga kemudian melanjutkan rujukan ke RS Bhayangkara Jayapura, rumah sakit keempat yang mereka datangi pada hari itu. Namun kembali tidak mendapatkan perawatan.

Keluarga Irene Sokoy mengatakan bahwa RS Bhayangkara Jayapura meminta uang muka sebesar Rp4 juta sebelum memberikan tindakan medis, meskipun pasien dalam kondisi darurat dan tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan kelas 3 yang dibiayai pemerintah.

"Sampai di Rumah Sakit Bhayangkara, pemeriksaan identitas sama, BPJS, pemerintah tanggung, kelas 3. Tapi itu full. Ada ruang VIP, tapi kita harus bayar 4 juta, uang muka 4 juta bisa ditangani," kata Ivan Ibo.

Menurut Ivan, keluarga tidak memiliki uang sebesar itu sehingga tidak ada tindakan medis yang dilakukan di IGD.

"Jadi tindakan medis itu hanya di dalam mobil," ujarnya.

Setelah pemeriksaan awal di area luar ruang IGD, keluarga diarahkan untuk melanjutkan perjalanan menuju RS Dok II Jayapura—rumah sakit berikutnya yang menjadi rujukan. Namun kondisi Irene kian memburuk di perjalanan.

Di tengah perjalanan, Irene bersandar pada Ivan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

"Kakak jatuh di dada saya. Kakak bilang, 'Kalau ada saudara laki-laki, saya sudah tidak bisa.' Itu saja, langsung kakak tutup mata," katanya.

Ivan berteriak kepada sopir agar memutar balik ke rumah sakit terdekat, yakni RS Bhayangkara.

"Sopir putar balik… datang kasih turun kakak korban, kasih tidur di tempat tidur. Pasang alat dari kaki sampai naik di dada. Alat itu semua tidak jalan," kata Ivan.

Ia meyakini kakaknya meninggal di dalam mobil sebelum tiba kembali di RS Bhayangkara.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya