MSG atau micin, kemudian olahraga kedelai seperti tahu, tempe, hingga susu kedelai kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Salah satu anggapan yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa konsumsi bahan makanan tersebut dapat memicu kanker pada wanita.
Utamanya karena kandungan MSG dan fitoestrogen dalam kedelai. Lantas, benarkah anggapan tersebut? Ataukah hanya mitos semata?
General Practitioner RS Sentra Medika Hospital Harapan Bunda, dr. Andi Sitti Tandina, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone mengatakan belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan MSG secara langsung menyebabkan kanker.
MSG atau monosodium glutamate merupakan bahan tambahan pangan yang digunakan untuk memberikan rasa gurih pada makanan. Bahan ini sering ditemukan dalam berbagai produk makanan olahan maupun masakan sehari-hari.
Menurut dr. Dina, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung antara konsumsi MSG dan kanker. Meski demikian, konsumsi MSG tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan.

MSG mengandung natrium. Dengan begitu, penggunaannya perlu diperhitungkan bersama sumber natrium lain dalam makanan. Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan berdampak pada kesehatan jantung serta pembuluh darah.
Karena itu, masyarakat disarankan membatasi konsumsi natrium secara keseluruhan, termasuk dari garam, bumbu penyedap, dan makanan olahan. Namun, hal tersebut berbeda dengan menyatakan bahwa MSG secara langsung menyebabkan kanker.
“Untuk MSG dulu, ya. Sebenarnya, belum ada penelitian yang secara langsung menunjukkan bahwa MSG menyebabkan kanker,” ujar dr. Dina.
“Namun, MSG mengandung natrium. Jika dikonsumsi secara berlebihan, asupan natrium dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Jadi, kaitannya lebih kepada risiko kesehatan seperti tekanan darah tinggi, bukan sebagai penyebab langsung kanker,” lanjutnya.

Selain MSG, produk olahan kedelai seperti tahu, tempe, dan susu kedelai juga kerap menjadi perhatian. Sebagian orang khawatir mengonsumsi makanan tersebut terlalu sering dapat meningkatkan risiko kanker karena kandungan fitoestrogennya.
dr. Dina menjelaskan bahwa kedelai mengandung senyawa fitoestrogen, salah satunya isoflavon. Senyawa ini dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen dalam tubuh, tetapi aktivitasnya tidak sama dengan hormon estrogen manusia.
Fitoestrogen juga tidak bisa langsung disamakan dengan estrogen yang diproduksi tubuh. Efeknya bergantung pada jenis senyawa, jumlah yang dikonsumsi, serta kondisi biologis seseorang.
Oleh karena itu, anggapan bahwa semua makanan berbahan dasar kedelai dapat meningkatkan risiko kanker pada wanita tidak tepat. Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa konsumsi kedelai sebagai bagian dari pola makan seimbang tidak terbukti meningkatkan risiko kanker payudara.
Beberapa penelitian pada populasi tertentu bahkan menemukan hubungan dengan risiko yang lebih rendah. Meskipun, hasil penelitian tidak selalu sama pada setiap kelompok. Dengan demikian, wanita tidak perlu langsung menghindari tahu, tempe, maupun susu kedelai hanya karena khawatir terhadap kandungan fitoestrogennya.
“Kemudian, untuk kedelai, sebenarnya ada kandungan yang disebut fitoestrogen. Jadi, fitoestrogen ini bukan estrogen. Mungkin orang menganggap keduanya sama karena namanya mirip dengan hormon estrogen,” jelas dr. Dina.
“Padahal, cara kerjanya berbeda. Karena itu, anggapan bahwa fitoestrogen dalam kedelai dapat meningkatkan risiko kanker karena bekerja seperti hormon estrogen perlu diluruskan,” lanjutnya.
“Tidak tepat jika langsung menyimpulkan bahwa konsumsi tahu, tempe, atau susu kedelai dapat meningkatkan risiko kanker,” tutur dr. Dina.