JAKARTA - Media sosial bukan sekadar wadah hiburan, melainkan bisa menjadi salah satu pemicu depresi, khususnya di kalangan remaja dan anak muda. Paparan konten visual yang masif kerap menyeret kesehatan mental anak muda ke dalam arus tekanan psikologis yang tak disadari.
Berdasarkan data program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 186.629 orang dewasa dan lansia mengalami depresi. Sementara pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, angkanya telah mencapai 34.961 orang.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi, mengungkapkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menunjukkan bahwa 80 persen kelompok remaja hingga dewasa menjadi pengguna paling aktif dalam mengakses internet.
Akses kabar yang sangat mudah itu terkadang bisa membuat pengguna hanya sekedar melihat sisi bagus yang ditampilkan dari seseorang yang menjadi idola atau seseorang yang menjual konten di dalamnya. Sementara, sisi lain dibalik apakah konten tersebut merupakan realitas sebenarnya atau hanya sekedar konten belaka terkadang terabaikan.
“Nah, kemudian internet itu kan sebetulnya dia mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Jadi dia akan melihat apa sih yang terjadi di seberang sana, misalnya idolanya seperti apa, kesuksesannya seperti apa? Padahal sebetulnya yang muncul di internet itu kan lebih ke arah hanya hasilnya saja,” ujar Imran saat diwawancarai di Kantor Kementerian Kesehatan, Minggu (11/10/2026).
“Tetapi apakah real kehidupannya seperti itu? Mereka juga tidak tahu bagaimana perjuangannya ke sana, berapa lama dia harus bekerja, itu yang membuat orang hanya melihat hasilnya saja,” katanya.