Kondisi itu, bisa saja berujung pada sikap membandingkan capaian pribadi dengan unggahan orang lain di media sosial yang akhirnya bisa menimbulkan kecemasan. Terlebih jika hal itu tidak dibatasi dengan pemahaman yang utuh.
“Itulah yang membuat orang jadi cemas kan, 'Lho, pada umurku ini dia kok sudah bisa beli Porsche,' gitu kan, 'Saya kok masih naik motor?' Nah, sehingga dia membandingkan dengan orang lain sebelumnya. Jadi memang upaya-upaya itu kan dari marketing pihak-pihak tertentu yang menjual lifestyle sebetulnya,” tuturnya.
Maka dari itu, Imran mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mentah-mentah menelan apa yang tersaji di layar ponsel. Banyak konten yang ditampilkan di media sosial telah dipoles dan bukan cerminan realitas kehidupan sehari-hari.
“Nah, kemudian saya kira itu juga kita perlu melihat bagaimana maturitas seseorang untuk bisa menerima apakah ini kenyataan ataukah ini hanya sebuah ilusi, nah itu butuh kematangan berpikir. Dari referensi-referensi studi yang sudah dilakukan, memang otak itu sebetulnya matur pada usia sekitar 20-an. Jadi kalau sebelum umur 20 ya, otak ini masih berkembang sehingga kalau ada sesuatu hal, otak itu mencernanya belum tahu secara benar nih, apakah itu kenyataan atau suatu impian,” kata Imran.
Selain persoalan media sosial, Imran juga meluruskan stigma masyarakat yang kerap mengaitkan gangguan kesehatan mental atau depresi dengan tingkat religiusitas seseorang, seperti anggapan 'kurang bersyukur'.
Menurutnya, depresi merupakan bentuk gangguan kejiwaan medis yang terjadi secara bertahap dan membutuhkan penanganan terukur, bukan sekadar respons atas kurangnya rasa syukur.