Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hari Kesehatan Mental Sedunia, Memahami Gangguan Jiwa dan Kaitannya dengan Kesehatan Otak

Djanti Virantika , Jurnalis-Sabtu, 10 Oktober 2026 |15:15 WIB
Hari Kesehatan Mental Sedunia, Memahami Gangguan Jiwa dan Kaitannya dengan Kesehatan Otak
Kesehatan mental. (Foto: Freepik)
A
A
A

SETIAP 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day. Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental, mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa, serta mendorong akses terhadap layanan kesehatan mental yang layak.

Dalam momentum ini, pemahaman mengenai gangguan jiwa menjadi penting. Gangguan jiwa bukan sekadar persoalan perasaan atau pikiran, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, mengelola emosi, berperilaku, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

1. Gangguan Jiwa Bukan Sekadar Tidak Bisa Membedakan Realitas

dr. Elly Tania Sp.KJ dari RS Sumber Waras Jakarta dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone mengatakan gangguan jiwa kerap disalahartikan sebagai kondisi ketika seseorang tidak mampu membedakan fantasi dan realitas. Padahal, gangguan jiwa memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Tidak semua orang dengan gangguan jiwa mengalami gangguan dalam menilai realitas. Sebagian orang dapat mengalami kecemasan berlebihan, depresi, perubahan suasana hati, atau kesulitan mengendalikan perilaku tanpa kehilangan kemampuan memahami realitas.

Otak memiliki peran penting dalam mengatur proses berpikir, emosi, perilaku, serta berbagai fungsi yang mendukung kehidupan sehari-hari. Karena itu, perubahan pada fungsi otak dapat berkaitan dengan perubahan kondisi mental seseorang.

“Gangguan jiwa itu adalah gangguan yang bermaslaah pada daya nilai realita. Jadi dia tidak dapat menilai ini fantasi atau realita,” ujar dr. Elly.

“Dan perlu kita ketahui, jiwa orang itu ada di otak. Otak itu yang mengatur yg mengontrol semua organ tubuh seperti jantung, paru, pembuluh darah dan lainnya. nah jadi jiwa itu juga yang mengatur cara berpikir kita, cara bagaimana kita beremosi dan berperilaku,” lanjutnya.

“Serta juga mengatur fungsi hidup kita sehari-hari dalam interaksi sosial, mungkin dalam berkegiatan speetri mungkin seksual, kemudian makan tidur dan sebagainya. Itu semua diatur oleh otak,” jelas dr. Elly.

“Jadi sakit jiwa itu sebetulnya adalah sakit otak. Jadi makanya jiwa dan fisik itu tidak bisa dipisahkan karena organnya jiwa itu ada di otak. kita berbicara jiwa maka kita berbicara otak,” sambungnya.

2. Penyakit Fisik Juga Dapat Pengaruhi Kondisi Mental

dr. Elly mengatakan gangguan pada otak dan kondisi medis tertentu dapat menimbulkan perubahan pada pikiran, emosi, perilaku, bahkan kesadaran seseorang. Infeksi otak, stroke, perdarahan, tumor, serta gangguan metabolisme tubuh merupakan beberapa kondisi yang dapat memengaruhi fungsi otak.

Pada situasi tertentu, gangguan tersebut dapat memicu kebingungan, perubahan perilaku, atau gejala psikologis lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental perlu dipahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan.

Pemeriksaan medis diperlukan untuk membedakan apakah perubahan kondisi mental berkaitan dengan gangguan psikiatri, penyakit fisik, atau kombinasi berbagai faktor. Dengan demikian, penanganan dapat diberikan sesuai penyebab dan kebutuhan individu.

“Ada sesuatu hal di otak yang mungkin menngakibatkan pikiran, emosi, perilaku, dan fungsi hidup kita jadi berubah,” ucap dr. Elly.

“Bisa karena faktor organik, seperti sakit yang kronis, mungkin infeksi di otak seperti virus, bakteri, jamur, mungkin karena pendarahan stroke, ataukah karena ada tumor karena ada metabolisme tubuh lainnya mengganggu keseimbangan. Pasti langsung akibatkan kita mungkin bicara jadi kacau, emosinya kacau, perilakunya kacau,” sambungnya.

“Meski demikian, gangguan jiwa tidak selalu disebabkan oleh penyakit organik atau kerusakan otak. Faktor genetik, pengalaman hidup, tekanan psikologis, lingkungan, dan kondisi sosial juga dapat berkontribusi terhadap munculnya gangguan mental,” jelasnya.

 

3. Menghapus Stigma, Mendorong Kepedulian

8 Mitos dan Fakta Seputar Masalah Kesehatan Mental, Jangan Salah Kaprah Ya Mom!

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia juga menjadi pengingat bahwa orang dengan gangguan jiwa membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Anggapan bahwa gangguan jiwa merupakan tanda kelemahan, kurang bersyukur, atau ketidakmampuan mengendalikan diri dapat membuat seseorang enggan mencari pertolongan.

Padahal, gangguan mental merupakan persoalan kesehatan yang dapat membutuhkan penanganan profesional. Keluarga, lingkungan kerja, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.

Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan emosional, serta mendorong seseorang untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater merupakan langkah yang dapat dilakukan. Jika seseorang mengalami perubahan emosi, pikiran, atau perilaku yang menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan profesional dapat membantu menentukan kebutuhan penanganan yang tepat.

4. Menjadikan Kesehatan Mental sebagai Prioritas

Hari Kesehatan Mental Sedunia bukan hanya peringatan tahunan, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kesadaran bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Memahami hubungan antara otak, tubuh, dan kondisi psikologis dapat membantu masyarakat melihat gangguan jiwa secara lebih objektif serta mengurangi stigma yang masih melekat.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement