PERNAH memperhatikan ibu atau pasangan perempuan bangun lebih pagi dibandingkan ayah atau pasangan laki-laki? Ternyata, kebiasaan tersebut tidak selalu sekadar soal rutinitas.
Penelitian menemukan adanya perbedaan biologis dalam ritme tidur antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan ternyata juga dapat ditemukan dalam hal yang sangat sederhana, termasuk pola tidur.

Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti dari Harvard Medical School menemukan bahwa perempuan cenderung memiliki siklus tidur-bangun atau ritme sirkadian yang sedikit lebih pendek dan lebih cepat dibandingkan laki-laki.
Akibatnya, perempuan secara umum cenderung lebih mudah mengantuk lebih awal pada malam hari dan bangun lebih pagi pada keesokan harinya.
Dilansir dari NBC News International, penelitian tersebut menemukan bahwa rata-rata ritme sirkadian perempuan sekitar 6 menit lebih pendek dibandingkan laki-laki. Angka 6 menit mungkin terdengar kecil. Namun, perbedaan tersebut dapat berpengaruh pada waktu seseorang merasa mengantuk dan terbangun.
Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan ritme biologis tersebut diperkirakan dapat membuat perempuan secara alami bangun sekitar 30 menit lebih awal dibandingkan laki-laki. Menurut peneliti Jeanne Duffy dari Harvard Medical School, perbedaan ritme tersebut dapat memengaruhi seberapa mudah seseorang tertidur dan mempertahankan tidurnya sepanjang malam.
Dengan kata lain, bukan hanya kebiasaan atau alarm yang menentukan kapan seseorang tidur dan bangun. Jam biologis tubuh juga ikut berperan.
Penelitian yang dipimpin Jeanne Duffy bersama Charles Czeisler tersebut melibatkan 52 perempuan dan 105 laki-laki. Para peserta menjalani pengamatan selama dua hingga enam minggu di laboratorium. Peneliti mengukur sejumlah indikator ritme sirkadian, termasuk suhu inti tubuh dan kadar hormon melatonin.
Melatonin merupakan hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur dan bangun. Para peserta juga menjalani pola tidur yang sengaja dibuat tidak mengikuti siklus 24 jam normal.
Kondisi ruangan dibuat minim cahaya sehingga pengaruh cahaya alami terhadap jam biologis dapat dikurangi. Cara tersebut memungkinkan peneliti melihat ritme biologis alami tubuh tanpa terlalu banyak dipengaruhi lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup menarik. Sekitar 35 persen perempuan yang diteliti memiliki ritme sirkadian kurang dari 24 jam. Sementara pada laki-laki, angkanya hanya sekitar 14 persen.
Tubuh manusia pada dasarnya memiliki jam biologis yang mengatur berbagai fungsi, termasuk kapan merasa mengantuk dan kapan merasa terjaga. Ketika ritme tersebut lebih pendek dari 24 jam, tubuh dapat memiliki kecenderungan untuk "maju" lebih cepat setiap harinya. Inilah salah satu alasan biologis yang dapat menjelaskan mengapa sebagian perempuan secara alami lebih mudah tidur dan bangun lebih awal.
Para peneliti menduga hormon estrogen mungkin memiliki kaitan dengan perbedaan tersebut. Namun, hubungan antara hormon dan ritme sirkadian ternyata cukup kompleks.
Temuan pada perempuan sebelum dan sesudah menopause menunjukkan bahwa perbedaan tersebut mungkin tidak semata-mata disebabkan oleh kadar hormon pada masa dewasa. Para peneliti menduga paparan hormon selama masa perkembangan juga mungkin berperan dalam membentuk karakteristik jam biologis seseorang.
Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan. Hal ini demi memahami secara pasti mekanisme yang menyebabkan perbedaan ritme tidur antara perempuan dan laki-laki.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.