
Salah satu manfaat sederhana dari tidur lebih awal adalah berkurangnya waktu yang tersedia untuk ngemil pada malam hari. Bayangkan seseorang makan malam pukul 18.00 tetapi baru tidur pukul 01.00. Ada rentang waktu sekitar tujuh jam setelah makan malam yang memungkinkan munculnya rasa lapar dan keinginan untuk mencari camilan.
Kebiasaan makan larut malam sendiri telah dikaitkan dengan sejumlah faktor yang dapat menyulitkan pengelolaan berat badan. Selain itu, makan dalam jumlah besar terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur.
Bagi orang yang memiliki masalah seperti refluks asam atau gangguan pencernaan, makan terlalu dekat dengan waktu tidur juga dapat memperburuk keluhan. Bukan berarti rasa lapar sebelum tidur harus selalu diabaikan. Jika memang lapar, camilan dalam porsi kecil yang mengandung protein, seperti yoghurt Yunani atau cottage cheese, dapat menjadi salah satu pilihan.
Secara umum, memberi jeda sekitar dua hingga tiga jam antara makan besar dan waktu tidur dapat membantu sebagian orang mendapatkan tidur yang lebih nyaman.
Tidur yang cukup juga berkaitan dengan kesehatan metabolisme. Sebuah penelitian pada 2020 menemukan bahwa orang dewasa muda yang rata-rata tidur kurang dari tujuh jam memiliki skor sindrom metabolik yang lebih tinggi. Sindrom metabolik merupakan kumpulan sejumlah faktor risiko yang berkaitan dengan penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Kurang tidur juga dapat memengaruhi proses oksidasi lemak, yaitu proses ketika tubuh memecah lemak untuk digunakan sebagai energi. Namun, hubungan antara tidur dan metabolisme sangat kompleks. Berat badan tidak hanya ditentukan oleh seberapa lama seseorang tidur, tetapi juga oleh pola makan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, stres, serta berbagai faktor lainnya.
Karena itu, tidur cukup sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari gaya hidup sehat, bukan sebagai cara tunggal untuk membakar lemak.
Tidur dan aktivitas fisik memiliki hubungan dua arah. Olahraga secara rutin dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Sebaliknya, tidur yang cukup dapat membuat tubuh lebih siap melakukan aktivitas pada hari berikutnya.
Kurang tidur sering menyebabkan rasa lelah pada siang hari. Kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan motivasi untuk berolahraga dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam kondisi tidak aktif.
Kurang tidur juga dapat memengaruhi performa fisik, termasuk waktu reaksi, kemampuan motorik, kekuatan otot, daya tahan, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Bagi orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan, dampaknya cukup relevan. Ketika tubuh lelah dan aktivitas fisik berkurang, jumlah energi yang digunakan sepanjang hari juga dapat ikut menurun.
Tidur yang cukup dengan demikian dapat membantu menciptakan kondisi tubuh yang lebih mendukung untuk tetap aktif.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.