Pada 29 Juni, Penny mengalami kejang saat sedang mengikuti kegiatan olahraga di sekolahnya. Dokter menemukan bahwa jantungnya membesar dan berdetak secara tidak normal. Jantungnya juga terlihat kesusahan memompa darah secara efektif.
Penny kemudian dipindahkan ke rumah sakit lain setelah pengobatannya gagal untuk menstabilkan kondisinya. Dia dipasangi alat bantu hidup darurat dan didiagnosis menderita kardiomiopati dilatasi (DCM).
DCM mengakibatkan bilik-bilik jantung membesar, sementara otot jantung menjadi renggang dan melemah. Hal ini dapat menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah serta beresiko menyebabkan gagal jantung atau gangguan irama jantung.
Penny juga harus dioperasi untuk mengetahui ritme abnormalnya. Keluarganya sangat berharap bahwa dia bisa sembuh, namun komplikasi lebih lanjut menyusul. Hasil pemindaian CT menunjukkan bahwa sebagian dari otak dan usus Penny telah mati karena kehilangan pasokan darah yang memadai.
Para dokter memberi tahu orang tua Penny bahwa dia tidak akan memiliki kualitas hidup yang baik apabila dia selamat. Kemudian keluarganya memutuskan untuk melepas alat bantu hidup Penny dan pada akhirnya dia meninggal pada 6 Juli.
Sherwood mengatakan kalau dia tidak menyalahkan tim medis dan menggambarkan para dokter yang telah merawat Penny sangat luar biasa. Dia juga mengatakan penyakit Penny masih belum jelas, walaupun dokter memberitahu keluarga kalau batuk bisa saja menjadi penyebabnya.