MEMASUKI periode cuaca yang tidak menentu, masyarakat mulai menghadapi berbagai keluhan kesehatan. Banyak orang yang tiba-tiba menderita batuk, pilek, hingga demam.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penyebab meningkatnya kasus sakit. Apakah berkaitan dengan cuaca ekstrem, masa pancaroba, atau virus yang sedang berkembang?
Dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang aktif di perhimpunan-perhimpunan IDI sekaligus Wakil Sekjend Perhimpunan Dokter Alergi Imunologi Indonesia (Wasekjend Peralmuni), Dr. dr. Fery Rahman, MKM, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone beberkan faktor penyebab maraknya sakit yang terjadi saat ini. Menurutnya, ada 3 faktor utama.
Menurut dr. Ferry, musim sakit yang terjadi saat ini muncul karena faktor lingkungan. Kondisi lingkungan saat ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena Indonesia sebelumnya mengalami musim kemarau yang cukup panjang.
Belakangan, hujan sempat turun, namun belum berlangsung secara konsisten. Bahkan, ada potensi musim hujan yang datang terlambat dan berlangsung relatif singkat. Di sisi lain, suhu udara dalam beberapa hari terakhir begitu tinggi, bahkan mencapai 37 derajat Celsius.
Kondisi lingkungan tersebut semakin kompleks dengan adanya sejumlah peristiwa seperti kebakaran hutan dan aktivitas vulkanik yang menghasilkan abu. Paparan panas ekstrem maupun partikulat di udara dinilai dapat menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan masyarakat.
“Kalau kita belajar di ilmu kesehatan masyarakat, ada 3 faktor ini ya (penyebab banyaknya orang yang sakit belakangan ini). Pertama adalah lingkungan, pancaroba,” ucap dr. Ferry.
“Ini kan sudah musim kemarau yang cukup panjang. Kemarin sempat hujan, tapi hanya sesaat. Sekarang hari ini enggak hujan lagi. Ada laporan juga, musim hujan datangnya telat tapi cuma sebentar,” lanjutnya.
“Belum lagi suhu ekstrem kita lihat 2-3 hari terakhir suhunya sampai 37 derajat Celsius. Belum lagi yang diderita bangsa ini, ada kebakaran hutan, terjadi di mana-mana, panas esktrem, apalagi yang kemari nada abu vulkanik yang cukup tinggi. itu juga salah satu pemicu. Itu kan lingkungan yang sangat mempengaruhi,” jelas dr. Ferry.
Selain lingkungan, faktor kedua yang perlu diperhatikan menurut dr. Ferry adalah perilaku dan mobilitas masyarakat. Mobilitas masyarakat yang tinggi, terutama di ruang publik yang padat, dapat meningkatkan interaksi antarmanusia. Salah satu contohnya adalah penggunaan transportasi umum pada jam-jam sibuk.
Kondisi tersebut dinilai dapat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit. Utamanya ketika banyak orang berkumpul dalam ruang yang sama.
“Yang kedua, perilaku masyarakat. Masyarakat kan mobilitasnya tinggi ini, utamanya bapak ibu yang sering naik kereta, KRL, padat penuh sesak itu kan menimbulkan kerumunan yang cukup tinggi dan sangat berdampak berpengaruh juga,” jelas dr. Ferry.