Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Karhutla Bikin Udara Berbahaya, Dokter Beberkan Pentingnya Clean Air Room untuk Anak

Niko Prayoga , Jurnalis-Minggu, 23 Agustus 2026 |18:05 WIB
Karhutla Bikin Udara Berbahaya, Dokter Beberkan Pentingnya Clean Air Room untuk Anak
Kebakaran Hutan Bikin Udara Berbahaya. (Foto: Freepik)
A
A
A

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) membuat kualitas udara jadi terdampak. Hal ini kemudian membahayakan banyak orang, utamanya anak-anak.

Bagi kesehatan anak-anak, karhutla melampaui sekadar krisis pemandangan udara berkabut. Lebih dari itu, ada ancaman langsung terhadap sistem pernapasan mereka yang masih sangat sensitif dan rentan.

Di tengah kepungan polusi dan asap tebal, masyarakat kerap kali mencari solusi cepat melalui konsumsi suplemen, susu, hingga tren detox paru. Padahal, langkah konkret paling krusial yang dibutuhkan anak-anak saat ini adalah pembatasan paparan fisik secara langsung dari sumber asap itu sendiri.

Kebakaran Hutan Kalimantan, Menkes: Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara untuk Cegah Dampak Asap

1. Pentingnya Clean Air Room untuk Anak

Dokter spesialis anak sekaligus influencer kesehatan, dr. Ardi Santoso, melalui sebuah unggahan edukatif di akun Instagram pribadinya mengingatkan orangtua dan masyarakat luas untuk segera mengambil tindakan nyata sebelum dampak buruk menghinggapi paru-paru buah hati saat karhutla terjadi.

“Selamatkan ‘Paru-Paru Anak’ dari Asap Kebakaran Hutan! Ini bukan sekadar udara berkabut. Ini masalah kesehatan anak yang harus ditangani sekarang. Jangan biarkan anak terus menghirup asap. Saat asap menyelimuti tempat tinggal, yang paling penting bukan vitamin, susu, detox paru. Yang paling penting kurangi asap yang masuk ke paru anak - anak termasuk kelompok paling rentan,” ujar dr. Ardi.

Menghadapi kualitas udara yang buruk, memurnikan seluruh area rumah kerap kali sulit dijangkau. Oleh karena itu, dr. Ardi merekomendasikan strategi yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga, yakni menciptakan ruang udara bersih atau clean air room.

Konsep ini tidak menuntut pembenahan seluruh bagian rumah. Cukup fokus pada satu area khusus tempat anak paling banyak menghabiskan waktunya sehari-hari, seperti kamar tidur utama atau ruang bermain.

“Buat Clean Air Room di rumah. Tak harus seluruh rumah, pilih satu kamar tempat anak paling banyak berada atau tidur, tutup pintu dan jendela, HEPA air purifier sesuai luas ruangan, AC mode recirculate, bebaskan rumah dari rokok/vape dan sumber asap, jangan membakar sampah, murangi masak berasap saat polusi berat,” jelasnya.

2. Manfaat Clean Air Room

Dokter Ardi menekankan bahwa esensi dari strategi clean air room sangat sederhana. Namun, dampak yang dihasilkan dari clean air room sangat besar bagi pertahanan tubuh anak.

“Targetnya sederhana, satu tempat di rumah di mana anak bisa bernapas dengan udara lebih bersih,” tambah dr. Ardi.

Perlindungan anak tidak boleh berhenti di ambang pintu rumah. Menurutnya, sekolah sebagai tempat anak belajar dan berinteraksi juga memiliki tanggung jawab besar dalam memitigasi risiko kabut asap, khususnya institusi pendidikan yang berada di wilayah terdampak karhutla.

dr. Ardi menilai, sekolah idealnya memiliki komitmen serupa untuk menghadirkan fasilitas ruang bersih agar proses belajar tetap aman.

“Satu sekolah satu Clean Air Room, sekolah di wilayah terdampak sebaiknya punya minimal satu ruang dengan HEPA air purifier sesuai ukuran ruangan, monitor PM2.5, pintu & jendela tertutup, AC mode recirculate bila tersedia, filter purifier cadangan,” paparnya.

Selain pembenahan fasilitas dalam ruang, penyesuaian kurikulum dan aktivitas fisik murid di luar kelas wajib dilakukan secepatnya ketika indikator kualitas udara menunjukkan level berbahaya. Seperti tidak upacara dan tidak melakukan aktivitas pembelajaran olahraga di luar ruangan.

“Saat kualitas udara buruk, tidak upacara, tidak olahraga outdoor, tidak bermain lama di luar,” tegas dr. Ardi.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement