Lebih lanjut, analisis tersebut juga menunjukkan adanya keterkaitan antara durasi tidur yang pendek dengan meningkatnya risiko gangguan paru-paru kronis, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Meski demikian, Prof. Erlina menekankan bahwa penelitian tersebut bersifat observasional. Dengan demikian, hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara durasi tidur dan keluhan pernapasan, tetapi belum dapat membuktikan bahwa kurang atau terlalu banyak tidur secara langsung menjadi penyebab penyakit paru-paru.
Kendati demikian, menjaga pola tidur tetap menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Masyarakat dapat mulai memperbaiki kebiasaan tidur dengan menjaga jadwal istirahat yang teratur dan memberikan tubuh waktu yang cukup untuk memulihkan diri.
“Kabar baiknya, posisi kita di pola tersebut masih bisa digeser ke tengah, dan caranya pun sederhana serta tanpa biaya. Cukup dengan menjaga jam tidur yang teratur setiap malam, Anda sudah memberi napas Anda kesempatan untuk pulih. Mulai malam ini, coba beri tubuh Anda waktu istirahat yang layak,” pungkas Prof. Erlina.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.