Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan FOMO Lari Jarak Jauh Tanpa Latihan Rutin, Dokter Ungkap Risikonya!

Niko Prayoga , Jurnalis-Senin, 20 Juli 2026 |07:02 WIB
Jangan FOMO Lari Jarak Jauh Tanpa Latihan Rutin, Dokter Ungkap Risikonya!
Ilustrasi lari jarak jauh. (Foto: dok Magnific)
A
A
A

JAKARTA - Tren gaya hidup sehat dengan berolahraga saat ini mulai banyak digemari oleh berbagai kalangan. Namun terkadang banyak orang yang justru fomo dan langsung melakukan olahraga dengan tensi yang cukup tinggi sebagai bahan flexing atau ingin terlihat bahwa fisiknya kuat.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Bobby Arfhan Anwar dalam podcast yang diunggah di channel YouTube milik Raditya Dika mengatakan, berolahraga dengan tensi tinggi secara sekaligus tanpa fisik yang terbiasa dengan latihan sebelumnya justru bisa berbahaya bagi kesehatan jantung. 

“Karena banyak yang fomo sekarang, ada yang langsung lari 5 kilometer, 10 kilometer, bahkan maraton. Padahal itu bahaya,” kata dr. Bobby, dikutip Minggu (18/7/2026).

Ia menjelaskan, jantung saat berolahraga dengan tensi yang tinggi, maka ia juga harus dalam kondisi yang sudah terbiasa dengan hal tersebut. Oleh karena itu, masyarakat disarankan agar melakukan olahraga atau latihan fisik secara bertahap, apalagi jika memulai olahraga dari nol.

“Enggak boleh, karena jantung itu sifatnya pembiasaan. Jadi buat teman-teman yang mulai gaya ingin hidup sehat, start slow aja, tapi konsisten,” ucapnya.

Seperti contohnya dalam berjalan kaki, dr. Bobby menyarankan agar olahraga jalan kaki dilakukan secara bertahap dengan berjalan selama 30 menit. Kemudian tensi jalan kaki dinaikan menjadi jalan cepat setelah tubuh terbiasa selama dua hingga tiga bulan. Setelah itu baru bisa masuk kepada fase olahraga kardiovaskular secara intens seperti jogging atau lari. 

“Kalau enggak biasa jalan kaki, kita mulai jalan kaki rutin aja 30 menit dengan kecepatan yang santai. Belum ada target apa-apa kalau memang belum pernah. Kalau sudah biasa mungkin dua sampai bulan, diubah menjadi jalan cepat. Setelah mungkin enam bulan rutin jalan cepat, baru mulai kardio yang agak lebih intens, seperti jogging atau lari,” ucap dr. Bobby. 

Maka dari itu, ia sangat tidak menyarankan melakukan olahraga dengan intensitas tinggi atau berat secara langsung tanpa pembiasaan. Apalagi jika seseorang tersebut telah memasuki umur 35 tahun ke atas. 

“Untuk kesehatan dan keamanan jantung, saya tidak menyarankan teman-teman yang baru mulai olahraga langsung intensitas berat seperti lari. Apalagi kalau di usia 35 ke atas, 40-an jangan coba-coba sebelum medical check-up,” katanya.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement