JAKARTA – Pasien gagal ginjal di Indonesia lebih mengenal terapi hemodialisis (HD) atau cuci darah dibandingkan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Adapun CAPD adalah metode dialisis mandiri yang dapat dilakukan di rumah dengan kontrol rutin ke rumah sakit sekitar satu kali dalam sebulan.
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengatakan pengalaman seperti yang dialami Rudi cukup sering terjadi. Banyak pasien baru mengetahui adanya pilihan terapi lain setelah bertahun-tahun menjalani hemodialisis.
Menurut Tony, di Indonesia sekitar 98 persen pasien gagal ginjal langsung menjalani terapi hemodialisis. Sementara itu, opsi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal belum selalu dijelaskan secara menyeluruh kepada pasien.
“Bagi kami di komunitas pasien, ini bukan hanya soal metode terapi, tetapi soal hak pasien untuk mendapatkan informasi lengkap dan menentukan pilihan pengobatannya sendiri,” ujarnya.
Penyakit ginjal kronik kerap disebut sebagai silent killer karena gejalanya sering tidak terasa pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut, yaitu stadium 4 atau 5, saat fungsi ginjal telah menurun drastis.
Pada kondisi tersebut, pasien umumnya memerlukan terapi dialisis atau transplantasi untuk mempertahankan hidup.
Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien tidak menyadari penyakit ginjal yang dideritanya hingga mencapai stadium lanjut. Jumlah pasien gagal ginjal kronik di Indonesia sendiri diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta orang pada 2023 dan diprediksi terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.