Jika gejala tersebut muncul sebelum waktu berbuka, maka ia menyarankan puasa segera dihentikan untuk mencegah komplikasi. Meski demikian, Ihda menekankan bahwa puasa tidak otomatis mengganggu tumbuh kembang selama kebutuhan energi, protein, mikronutrien, dan cairan tetap terpenuhi saat sahur dan berbuka.
Namun, jika terjadi defisit energi berulang, asupan protein rendah, atau kekurangan zat besi dan mikronutrien penting, maka pertumbuhan linear, massa otot, hingga fungsi kognitif anak bisa terdampak. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan bertahap.
Misalnya dengan memantau status gizi anak dan, jika perlu, berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Orangtua juga disarankan mempelajari edukasi nutrisi yang menjadi kunci agar anak dapat menjalani ibadah puasa tanpa mengorbankan kesehatannya.
(Rani Hardjanti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.