Para ahli memaparkan beberapa dugaan mekanisme yang mungkin menjelaskan keterkaitan tersebut, antara lain:
1. Perubahan pada mikrobioma usus, yang diketahui memengaruhi komunikasi antara otak dan sistem pencernaan.
2. Respons metabolik tubuh terhadap rasa manis tanpa kalori, yang berpotensi memengaruhi penanda inflamasi atau proses neurologis tertentu.
Karena itu, para ahli kesehatan mengingatkan agar konsumsi pemanis buatan tetap dibatasi. Hingga kini belum ada bukti yang menyatakan bahwa pemanis buatan aman dikonsumsi dalam jumlah tidak terbatas.
Pemanis buatan dapat menjadi pilihan sesekali, tetapi sebaiknya tidak dijadikan pengganti utama gula dalam pola makan sehari-hari. Bagi mereka yang mengonsumsinya secara rutin, disarankan untuk mempertimbangkan pola makan secara keseluruhan serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna mendapatkan saran yang sesuai.
(Rani Hardjanti)