JAKARTA – Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya identik dengan lampion, angpau, dan kumpul keluarga, tetapi juga sarat dengan berbagai mitos dan kepercayaan turun-temurun yang masih dipercaya oleh masyarakat Tionghoa hingga kini.
Mitos-mitos ini diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari tradisi yang memperkaya makna Imlek sebagai simbol harapan, keberuntungan, dan awal baru. Berikut 5 mitos yang dipercaya saat perayaan Imlek.
Mitos:
Menerima angpau saat Imlek dipercaya bisa membawa keberuntungan dan rezeki sepanjang tahun.
Faktanya:
Angpau memang tidak otomatis membuat seseorang langsung beruntung, namun secara simbolis angpau melambangkan doa, harapan baik, dan berbagi kebahagiaan. Tradisi ini juga mempererat hubungan keluarga dan sosial.
Mitos:
Bunyi petasan dipercaya dapat mengusir roh jahat dan energi negatif di awal tahun.
Faktanya:
Secara tradisional, suara keras diyakini mengusir hal buruk. Meski kini lebih bersifat simbolis dan hiburan, petasan tetap menjadi bagian dari kemeriahan Imlek—tentu dengan tetap memperhatikan faktor keamanan.
Mitos:
Makanan seperti ikan, mie panjang umur, dan kue keranjang dipercaya membawa keberuntungan, kelimpahan, dan umur panjang.
Faktanya:
Makna keberuntungan berasal dari simbol dan filosofi di balik makanan tersebut. Selain itu, hidangan khas Imlek juga menjadi sarana kebersamaan keluarga yang mempererat hubungan antaranggota.
Mitos:
Memotong rambut saat Imlek diyakini bisa membuang keberuntungan dan mendatangkan kesialan.
Faktanya:
Tidak ada dasar ilmiah terkait mitos ini. Namun, banyak orang tetap menghindari potong rambut sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan simbol awal tahun baru.
Mitos:
Mengenakan pakaian berwarna merah saat Imlek dipercaya mampu menangkal energi negatif dan mendatangkan hoki.
Faktanya:
Merah melambangkan keberanian, kebahagiaan, dan kemakmuran dalam budaya Tionghoa. Tak heran jika warna ini mendominasi dekorasi dan busana saat Imlek karena memberi kesan ceria dan penuh semangat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)