Para peneliti memperkirakan bahwa tingkat telomer peserta yang minum 3–4 cangkir kopi sehari setara dengan sekitar lima tahun lebih muda secara biologis dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi kopi. Usia biologis berbeda dari usia kronologis atau yang dikenal dengan umur sesuai tanggal lahir.
Usia biologis menunjukkan kondisi fungsi sel dan jaringan dalam tubuh, proses penuaan sel yang dipengaruhi berbagai faktor termasuk genetika, nutrisi, gaya hidup, dan stres oksidatif. Telomer yang memendek lebih cepat dapat menandakan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis dan penuaan sel yang lebih cepat.
Sebaliknya, telomer yang lebih panjang menunjukkan proses penuaan yang lebih lambat dan sel yang lebih terlindungi. Untuk itu, para ahli menduga bahwa manfaat ini bisa didapat dari senyawa antioksidan dan anti-inflamasi yang ada dalam kopi.
Senyawa ini membantu melindungi sel dari kerusakan akibat stres oksidatif dan peradangan, di mana dua hal tersebut menjadi faktor utama yang mempercepat pemendekan telomer serta penuaan sel.
Sejumlah senyawa dalam kopi, seperti polifenol, memiliki sifat tersebut sehingga kopi secara tidak langsung dapat membantu mempertahankan panjang telomer. Namun, para ahli mengingatkan untuk tetap mengonsumsinya dalam batas wajar.
Batasi maksimal tiga hingga empat gelas per hari, karena konsumsi melebihi jumlah itu tidak menunjukkan manfaat dan justru bisa menghilangkan efek positifnya.
(Rani Hardjanti)