Adapun waktu dilaksanakannya ritual Nopamada adalah ketika seseorang menghadapi sakaratul maut. Tampak orang itu terlihat gelisah, kesakitan, berkeringat, hingga cara bicaranya yang mulai kacau.
Tanda-tanda seorang yang sekarat tersebut, disebut nantapasaka artinya melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang pernah dilakukan selama hidupnya. Apakah itu yang baik atau yang buruk, sehingga memberikan tuntutan atau bimbingan dari anggota keluarga yang dianggap ahli dalam bidang itu secara bergantian.

Kemudian dilanjutnya dengan mopotuntuaka ritalinga, yang berarti membisikkan sesuatu pengajaran dengan mendekatkan mulut di telinga orang yang sedang sakarat. Ritual ini dulunya dilakukan oleh dukun (sando), yakni dengan membaca mantra (mogane), sembari meremaskan bagian kepala dengan air, yang telah dicelup oleh dukun dengan mantra-mantra tertentu. Saat itu anggota keluarga menyaksikan dengan tenang.
Namun saat ini Nopamada dilakukan berbeda. Ketika seseorang telah menjemput ajalnya, maka keluarga dan warga sekitar akan membimbingnya dengan cara membaca Al-Quran, salah satunya membacakan Surah Yassin.
Guna orang yang sakaratul maut itu bisa meninggal dunia dalam keadaan baik, khususnya ingat Allah SWT, sehingga berharap nantinya jalannya akan dipermudah saat di akhirat.
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.