Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Tradisi Malam 1 Suro, Momen Sakral Masyarakat Jawa yang Kental Nuansa Mistis

Janila Pinta , Jurnalis-Senin, 01 Juli 2024 |16:59 WIB
Mengenal Tradisi Malam 1 Suro, Momen Sakral Masyarakat Jawa yang Kental Nuansa Mistis
Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (Foto: Instagram/@mangkunegaran)
A
A
A

MALAM 1 Suro lazimnya lekat dengan hal-hal berbau mistis. Sebagian orang bahkan beranggapan pada momen itu makhluk astral tak kasat mata merayakan hari raya mereka.

Meski zaman telah modern, namun kepercayaan itu hingga kini masih melekat pada kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Beberapa suku di Nusantara bahkan masih melestarikan berbagai ritual khusus sebagai tradisi sakral yang hanya dilakukan di malam 1 Suro.

Sejarah malam 1 Suro
Malam 1 Suro sebenarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram dalam kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645). Pada masa itu, Sultan Agung mengadakan sebuah perayaan besar-besaran untuk menetapkan Tahun Jawa atau Tahun Baru Saka di Bumi Mataram.

Sultan Agung juga menetapkan tanggal 1 Suro sebagai awal tahun baru Jawa. Penetapan tersebut diambil dari perpaduan kalender Hijriyah, kalender Jawa, dan sistem penanggalan Hindu.

Ilustrasi Keris Pusaka

(Foto: pusakakeris.com)

Pada zaman kerajaan Demak, Sunan Giri II memberikan penyesuaian pada sistem perhitungan kalender Jawa dan Hijriyah pada 931 H atau 1443 tahun Jawa. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan kalender Islam pada masyarakat Jawa.

Seperti diketahui, masyarakat Jawa memiliki banyak budaya dan tradisi yang masih dijaga keasliannya hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi perayaan malam 1 Suro yang dilaksanakan setahun sekali. 

Bagi masyarakat Surakarta misalnya, pada malam 1 Suro akan dilakukan kirab yang dihadiri oleh anggota keluarga Keraton Surakarta, abdi dalam, hingga ribuan orang lainnya.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement