Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Nayu-ayu, Ritual Adat Masyarakat di Kaki Gunung Rinjani

Tim Okezone , Jurnalis-Minggu, 17 Juli 2022 |04:07 WIB
Mengenal Nayu-ayu, Ritual Adat Masyarakat di Kaki Gunung Rinjani
Nayu-ayu, ritual adat masyarakat Sembalun Bumbung, Nusa Tenggara Barat (ANTARA)
A
A
A

DESA Sembalun Bumbung, Nusa Tenggara Barat, terletak di kaki Gunung Rinjani merupakan salah satu kawasan yang memiliki kekayaan alam yang subur, selain itu memiliki keanekaragaman tradisi dan budaya.

Desa ini sudah lama dikenal memiliki panorama nan indah memanjakan mata setiap pengunjungnya, dan kekayaan alam berupa gunung dan bukit yang mempesona.

Di era 80-an, Sembalun dikenal luas sebagai penghasil bawang putih nomor satu di belahan nusantara. Kini desa setempat setempat dikenal dengan penghasil sayur mayur dan strawberi.

Lantaran kesuburan alamnya, beraneka kekayaan hasil pertanian seperti strawberi, kentang, paprika dapat ditemui di Sembalun.

 BACA JUGA:Mengenal Tradisi Ngerebeg yang Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Selain kekayaan alam, Sembalun juga memiliki banyak situs budaya diantaranya. Keberadaan Desa Beleq (besar) dan Makom.

Desa Beleq merupakan desa pertama yang ada di wilayah kaki gunung Rinjani, yang didirikan oleh leluhur setempat yang menjadi cikal bakal masyarakat Sembalun dan kini menjadi desa adat.

 Ilustrasi

Desa Sembalun

Selain itu, bagi yang menyukai wisata budaya, Sembalun memiliki atraksi budaya unik bernama Ritual Adat Ngayu-Ayu yang digelar tiga tahun sekali.

"Ritual adat ini digelar tiga tahun sekali, ritual ini sebagai peringatan atas seluruh rangkaian kejadian masa lalu. Dan ritual ini berupa pengambilan air suci dari 13 mata air dan Sembalun", kata Muali, ketua panitia Ritual Adat Ngayu-Ayu seperti dilansir dari ANTARA, Sabtu (16/7/2022).

"Ngayu-Ayu merupakan ritual peninggalan leluhur, yang mencerminkan rasa syukur terhadap anugerah Yang Maha Kuasa", imbuhnya.

Rangakian Ritual ini, lanjut Mahli mulai digelar di berugak desa di Sembalun Bumbung. Dengan memberangkatkan air hanya dari berugak desa menuju berugak Reban Bande.

Selain itu, makna dari ritual Ngayu-Ayu juga merupakan bentuk rasa syukur. Karena terhindar dari bencana dan penyakit, yang konon di zaman dahulu sering dialami masyarakat setempat.

"Selain itu, ritual Ngayu-Ayu merupakan bentuk syukur atas tumbuh suburnya padi merah (Pade abang). Di mana tipikal tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat", jelas Mahli

Sementara prosesi ritual Ngayu-Ayu berlangsung selama dua hari. Di hari pertama, pengumpulan air dari tujuh sumber mata air yang mengalir dan dimanfaatkan Masyarakat Sembalun.

 BACA JUGA:5 Tradisi Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Air didiamkan selama satu malam di rumah ketua adat. Keesokan harinya dikumpulkan menjadi satu di makom yang terletak di sebelah barat lapangan Sembalun Bumbung.

 

"Tujuan dari pengumpulan air dari tujuh sumber mata air ini, merupakan simbol atas rasa syukur masyarakat Sembalun atas berlimpahnya hasil bumi di tanah Sembalun", tuturnya.

Hari kedua, kata Mahli lebih lanjut dimulai dengan acara penyembelihan kerbau yang dilakukan oleh kiai adat atau keturunannya. Karena tidak boleh dilakukan oleh selain keturunan mangku tersebut.

Kemudian kepala kerbau ditanam sebagai pendek bumi (Pasak bumi / pengaman) Desa Sembalun dari bala bencana. Dagingnya dimasak untuk makan bersama (Begibung).

Setelah itu, digelar ritual Mafakin. dimana ritual ini para ketua adat membacakan bacaan selama prosesi penurunan bibit padi merah dari lembang sampai proses penyemaian.

"Lalu, masyarakat mengitari makom sebanyak sembilan kali putaran", kata Mahli.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement