Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BPA Berisiko Timbulkan Kanker dan Kemandulan?

Antara , Jurnalis-Selasa, 12 April 2022 |11:32 WIB
BPA Berisiko Timbulkan Kanker dan Kemandulan?
Mengalami gangguan kesuburan (Foto: Baby chick)
A
A
A

KEPALA Badan Pengawas Obat dan Makanan, Penny K. Lukito menyesalkan sejumlah pihak yang menentang rencana pelabelan risiko Bisfenol A atau BPA–bahan kimia. Apalagi, menurutnya, BPA punya risiko menimbulkan kanker dan kemandulan.

Menurut Penny, regulasi pelabelan risiko BPA tersebut sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat. Oleh karena itu BPOM berkomitmen memperjuangkan pengesahannya.

 sedih alami gangguan kesuburan

"Draft peraturan pelabelan BPA itu sebenarnya sudah selesai harmonisasi di Kementerian Hukum, dan kami juga sudah menulis surat ke Presiden Joko Widodo, melalui Sekretariat Kabinet dan Sekretariat Negara, meminta agar draft tersebut segera difinalkan," kata Penny.

Sambil menunggu pengesahan, ujar dia, BPOM segera melakukan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat terkait potensi bahaya BPA. "Kegiatan itu akan paralel dengan proses pengesahannya," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator riset dan teknologi FMCG Insights Muhammad Hasan mendesak kalangan akademisi untuk lebih kritis. Ia meminta agar mereka tak meremehkan potensi bahaya BPA sebagai bahan kimia yang bisa memicu kanker dan kemandulan pada galon keras polikarbonat.

Bahkan, seiring perkembangan riset dan sains mutakhir, kata Hasan, otoritas keamanan pangan di berbagai negara mengkhawatirkan residu BPA pada kemasan polikarbonat dan efeknya pada kesehatan manusia.

Di Perancis dan Kanada telah melarang peredaran semua kemasan pangan yang mengandung BPA, setelah sebelumnya sebatas melarang penggunaannya pada kemasan botol bayi.

Di Indonesia, BPOM mengharuskan produsen pangan yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat menaati ambang batas migrasi BPA yang ditetapkan sebesar 0,6 mg/kg. BPOM mengecek kepatuhan industri atas aturan yang sifatnya self-regulatory tersebut dengan menggelar audit secara rutin.

Hasil pemantauan BPOM per Februari 2022 menyebut level migrasi BPA pada galon guna ulang yang beredar luas di masyarakat serta menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan baik pada sarana produksi maupun distribusi.

"Ini peringatan pertama dari BPOM setelah dalam rentang enam tahun sebelumnya lembaga menyatakan level migrasi BPA pada galon guna ulang masih di bawah ambang batas berbahaya," ujarnya.

 BACA JUGA:Perjuangan Siti Badriah Hamil, Cibiran Mandul Sempat Bikin Depresi

Ia menambahkan BPOM juga telah merancang sebuah kebijakan pelabelan risiko BPA pada galon polikarbonat untuk mengantisipasi apa yang digambarkan oleh pejabat lembaga sebagai masalah-masalah kesehatan publik yang mungkin muncul di masa datang.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement