Nah, ketika seseorang kesulitan untuk tidur, maka jam waktu istirahat pun menjadi berkurang. Akibatnya, muncullah berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, lantaran tak memiliki waktu tidur yang berkualitas. Oleh karenanya, dr. Andreas menyarankan untuk tidak melihat layar gadget sekitar 1-2 jam sebelum tidur, agar tidak mengalami kesulitan tidur.
"Jadi memang disarankan satu jam atau dua jam sebelum jam tidur misalnya jam 11 saya mau tidur, jam 9 atau 10 udah nggak lihat-lihat hp lagi supaya bisa tidur, supaya tidur berkualitas, sehingga besok paginya bisa segar," ucap dr. Andres.

dr. Andres kembali menegaskan bahwa sinar biru dari perangkat elektronik tidak menyebabkan kerusakan mata secara langsung, melainkan menyebabkan gangguan siklus tidur dan juga kondisi kelelahan mata. Sementara salah satu penyebab terjadinya gangguan mata seperti miopi atau rabun jauh adalah aktivitas melihat gadget dengan jarak dekat selama berjam-jam, bukan sinar biru dari gadget.
"Perlu diketahui bahwa melihat dekat dalam waktu yang lama itu sangat melelahkan mata. Jadi, impact-nya hanya itu. Bisa kita rangkum menyebabkan sirkadian atau siklus tidur, istirahat tidak bagus, paginya tidak segar, dan menyebabkan mata lelah. Itu aja, tidak ada hal lain, nggak perlu didramatisir ya sampai mengerikan," terang dr. Andreas.
Berbeda dengan sinar biru yang berasal dari sinar matahari, sinar itu memang memiliki panjang gelombang yang sudah terbukti berbahaya bagi mata ataupun kulit. Sinar inilah yang bisa menyebabkan degenerasi makula dan gangguan mata lainnya hingga risiko kebutaan. Dan untuk mengantisipasinya, seseorang bisa menggunakan kacamata anti ultraviolet saat beraktivitas di luar ruangan.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.