DI era sekolah online dan menjaga jarak dengan orang lain seperti saat ini. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan interpersonal yang penting. Salah satunya, ialah bagaimana untuk tidak setuju.
Dikatakan oleh psikolog berlisensi, Leonard Felder, ketika anak-anak bisa belajar untuk tidak setuju tanpa menggunakan emosi atau amarah. Maka anak-anak bisa mengembangkan keterampilan penting untuk memiliki hubungan pertemanan yang baik dan menjadi bagian dalam kelompok teman-teman sebayanya.
Lalu seperti apa mengajarkan anak dengan baik, untuk tidak setuju tanpa perlu tantrum? Mengutip Yahoo, yuk simak paparan singkat 5 cara baik ajarkan anak untuk tidak setuju, menurut saran dari para ahli di bawah ini.

Mulai sejak dini
Tips pertama datang dari Robin Goodman, selaku psikolog klinis dan terapis seni anak-anak. Sebisa mungkin sejak usia dini, anak-anak sudah diajari untuk berbagi dan bersikap sopan.
Robin menyebut, ajaran ini sebagai pondasi dasar. “Ini adalah pondasi yang bagus untuk komunikasi yang baik dan bergaul dengan orang lain,” kata Robin.
Belajar untuk tidak setuju adalah proses seumur hidup yang dimulai dengan keterampilan dasar seperti empati dan komunikasi.
Bicara tentang perasaan
Cara kedua dari Robin, ialah membiasakan anak untuk membicarakan tentang perasaannya. Membantu anak-anak memahami dan mengekspresikan emosi mereka dapat melatih anak untuk menangani konflik dan perselisihan.
"Menolong anak untuk bisa memahami perasaan mereka saat konflik muncul sangat membantu. Contohnya apakah mereka merasa sakit hati, tersisih, frustrasi, tidak didengarkan, atau dipermalukan? Menempatkan kata-kata untuk perasaan dapat membantu memahami apa yang sedang terjadi dan sumber masalahnya, bukan hanya soal isu perselisihan,” jelas Robin.

Kembangkan empati
Psikolog, terapis, dan penulis Sheryl Ziegler menyarankan orang tua agar mengajarkan anak mengembangkan perasaan empati yang ada. Contohnya, dengan meminta anak untuk memposisikan diri mereka di posisi orang lain.
“Tantang anak, dengan beri pertanyaan seperti, kenapa bicara seperti itu, bagaimana rasanya jika ditinggalkan, apa perasaan dan pikiran orang lain,” kata Sheryl.
Mengasah empati adalah keterampilan yang bagus untuk komunikasi yang efektif, meningkatkan hubungan, dan bertahan dalam masa-masa sulit.