Sementara indikator ketiga terkait dengan pelestarian alam di destinasi itu sendiri. Sehingga harus dipastikan bahwa setiap destinasi benar-benar melakukan perawatan dan pelestarian alam dengan baik. Tidak boleh ada aktivitas-aktivitas yang merusak alam. Contohnya merusak hutan, berburu hewan liar, dan lain sebagainya.
"Untuk pasar-pasar yang berkualitas ini. Otomatis produknya juga harus berkualitas. Bagaimana cara menciptakannya? Ya harus lihat ketiga indikator tadi," kata mantan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Kementerian Pariwisata itu.
"Produk yang berkualitas itu juga terbagi lagi ada yang fisik seperti hotel, tempat makan, dan seterusnya. Lalu ada produk nonfisik seperti pelayanananya ramah atau tidak. Ini sangat penting diperhatikan bila ingin mengembangkan ekowisata," imbuhnya.
Sejauh ini, lanjut Pitana, hanya ada dua daerah yang siap untuk mengembangkan ekowisata yakni, Bali dan Yogyakarta. Kedua daerah tersebut dinilai sudah memenuhi semua indikator.
"Mengapai Bali dan Yogya siap? Mereka itu ada pengalaman berpuluh-puluh tahun menjadi destinasi yang diincar wisatawan mancanegara. Kedua, masyarakatnya juga terbuka. Mereka memiliki hospitality yang tinggi. Mulai dari tukang becak pelayan di toko dan lain sebagainya, mereka sangat ramah dan tahu cara melayani wisatawan," kata dia.
(Rizka Diputra)