Menurutnya, pembuatan bakso ini miliki kendala di proses pembentukannya. Bila tak hati-hati mencetaknya, bentuk bulatnya bakso akan pecah.
“Perlu teknis khusus untuk mencetak bakso yang sedemikian besar ini. Supaya kalau direbus tidak pecah,” beber perempuan yang dikenal Eva Embun ini.
Benar saja, baru seminggu dicoba untuk dipasarkan, bakso lampion yang di dalamnya terdapat cabai, bakso kecil, dan telur puyuh, sudah ramai diserbu para pelanggannya.
Mereka rata-rata penasaran dengan penyebutan nama bakso lampion, terlebih bahan baku salah satunya berasal dari buah naga yang diambil dagingnya ini.
Sejak dilaunching seminggu sebelum imlek, rata-rata 35 porsi yang diproduksi terjual habis sebelum warung bakso miliknya tutup.
“Ini bahkan hari ini 50 porsi sudah habis dipesan di hari imlek ini. Ada yang datang jauh-jauh dari Surabaya tidak kebagian tadi, kasihan tapi mau bagaimana lagi kita produksinya masih terbatas,” tandas perempuan yang merintis usaha bakso tahun 2017 ini.
Guna memenuhi permintaan pelanggannya selama seminggu sebelum dan sesudah imlek ini, Eva membutuhkan 2 kg sehari buah naga untuk bahan baku bakso lampionnya.