Adapun penelitian sebelumnya, cenderung berfokus pada diet para wanita yang didiagnosis atau menerima pengobatan untuk infertilitas. Dari 5.598 wanita, mayoritas 5.258 (94 persen) tidak menerima perawatan kesuburan sebelum konsepsi dan 340 melakukannya.
Selama kunjungan pertama pada sekira usia kehamilan 14-16 minggu, bidan mengumpulkan informasi tentang waktu yang diperlukan untuk hamil dan diet mereka. Ini termasuk rincian pola makan mereka di bulan sebelum pembuahan, dan seberapa sering mereka mengonsumsi buah, sayuran berdaun hijau, ikan, dan makanan cepat saji.
Makanan cepat saji tersebut, termasuk burger, pizza, ayam goreng, dan keripik yang dibeli dari gerai makanan cepat saji atau dibawa pulang. Sedangkan makanan cepat saji yang dimakan di rumah atau dibeli dari supermarket tidak termasuk dalam data yang dikumpulkan.

(Foto: Reuters)
Mereka pun menyesuaikan hubungan dengan diet pra-kehamilan untuk memperhitungkan beberapa faktor yang diketahui meningkatkan risiko infertilitas, termasuk indeks massa tubuh dan usia ibu, merokok dan asupan alkohol.
Para peneliti juga menemukan bahwa meskipun asupan buah dan makanan cepat saji mempengaruhi waktu hingga kehamilan, asupan sayuran hijau atau ikan tidak mempengaruhi waktu kehamilan.
(Martin Bagya Kertiyasa)