SANGAT mudah membayangkan bisa dekat dan bermain bersama anak-anak. Tapi faktanya, itu sulit dilakukan. Anak-anak sering merasa tidak nyaman dan cemberut ketika didekati orang dewasa yang baru mereka jumpai.
Mungkin sesama orang dewasa, Anda mudah bergaul dan berbaur dalam lingkungan baru dan membuat satu meja tertawa. Meski di antara orang-orang tersebut terdapat orang baru yang tak pernah dikenal.
Namun, anak-anak tidak sesantai itu. Mendekati anak-anak adalah ujian keterampilan sosial lain yang harus dipelajari. Menjadi tantangan baru bagi orang dewasa untuk bisa bermain, tertawa, dan bercanda kepada anak kecil. Secara teoritis, berbicara semestinya mudah dilakukan, sekalipun dengan anak-anak. Cukup dengan menyediakan biskuit, mereka pasti suka dan cepat diambil hatinya.
Baca Juga: Bagaimana Mengasuh Anak yang Kepribadiannya Jauh Berbeda dengan Anda?
Akan tetapi, pada kenyataannya aneh dan sulit merasa santai di sekitar anak-anak yang belum dekat dengan Anda. Misalnya, ketika diajak berjalan-jalan atau makan siang, anak laki-laki berusia 10 tahun akan murung, sementara anak perempuan lima tahun ‘tergigit lidahnya’ (tak bisa bicara).
Seperti dilansir Huffingtonpost, Selasa (5/9/2017), alasannya adalah anak-anak tidak dapat melakukan hal-hal normal yang memudahkan pertemuan sosial antara orang dewasa yang tidak dikenal. Mereka tidak mengajukan pertanyaan sopan tentang apa yang telah orang dewasa lakukan. Mereka tidak memiliki perasaan untuk berbaur dengan orang dewasa. Anak-anak juga tidak bisa berbasa-basi bicara soal cuaca seperti yang orang dewasa lakukan. Mereka biasanya tidak bisa memberi tahu banyak hal tentang diri mereka dan antusiasmenya.
Baca Juga: Ulang Tahun ke-7, Baiknya si Kecil Diberi Kado Edukatif! Seperti Apa Ya?
Jika orang dewasa bertanya kepada anak-anak mengapa mereka menyukai mainan atau film, mereka cenderung terlihat kosong dan mengatakan bahwa mereka menyukainya, itu saja. Anak-anak tidak dapat melakukan hal-hal normal yang memudahkan pertemuan sosial dengan orang dewasa yang tidak dikenal.
Jadi, bisa dikatakan anak-anak menghadirkan hambatan hebat dan menarik terhadap fluiditas sosial. Hal itu menjadi ujian untuk orang dewasa tentang bagaimana menguasai seseorang terhadap seni pesona dan kebaikan.
Jika menengok sejarah budaya, beberapa orang dewasa punya prestasi hebat. Mereka dapat bergaul baik dengan anak-anak. Henri IV, Raja Prancis era tahun 1589 sampai 1610 dikenang sebagai salah satu raja Prancis yang paling tegas dan sangat mampu berperilaku manis dengan anak-anak.
Henri IV tidak duduk santai di atas takhta yang membahas bagaimana memerintah sebuah kerajaan. Ia mengesampingkan kebajikan dan prestise untuk membuat dirinya lebih ‘setara’ dengan anak-anak. Dia mencoba menjadi teman dengan bermain bersama anak-anak. Tahtanya dipertaruhkan demi mengambil hati anak kecil.
Baca Juga: Moms, Ajarkan si Kecil Sayangi Hewan! Manfaatnya, Dia Tidak Akan Menyakiti Temannya
Padahal, Duta Besar Spanyol sedang berkunjung dan ingin bertemu. Betapa takjubnya ia melihat sang raja sedang duduk dilantai dan melihat raja sedang berpura-pura menjadi kuda bagi anak-anaknya untuk dikendarai. Alih-alih menyudahi permainan selesai, Henri malah menahan Duta Besar untuk menunggu sebentar. Seolah mengirimkan sinyal kuat tentang di mana dia merasa prioritas dewasa yang masuk akal terkadang harus sedikit berbohong.
Langkah yang dilakukan raja bersama anak-anak adalah pelajaran bagi kita tentang bagaimana berhubungan dengan siapa saja, dari usia berapa pun. Persahabatan dapat dimulai, dan kesepian bisa berakhir, ketika kita berhenti mencoba tampil mengesankan, maka itu merupakan keberanian melangkahkan diri keluar dari zona aman, meski terlihat sedikit konyol.
(Vien Dimyati)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.