Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

HARI MERDEKA: 4 Rumah Sakit Ini Menjadi Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia

Tiara Putri , Jurnalis-Rabu, 16 Agustus 2017 |19:17 WIB
HARI MERDEKA: 4 Rumah Sakit Ini Menjadi Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia
Rumah sakit menjadi saksi bisu kemerdekaan Indonesia
A
A
A

BEBERAPA rumah sakit di Indonesia usianya sudah mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Bisa dikatakan rumah sakit itu sebagai saksi bisu kemerdekaan Indonesia.

Sebab, tentunya banyak masyarakat dan pahlawan di masa penjajahan yang menjalani perawatan di rumah sakit ketika kondisi kesehatannya menurun. Namun, mungkin banyak orang tidak menyadari rumah sakit apa saja yang turut berperan dalam Kemerdekaan Indonesia.

Dikutip dari berbagai sumber, inilah beberapa rumah sakit yang menjadi saksi bisu Kemerdekaan Indonesia:

1. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta

Anda tentunya tidak asing dengan rumah sakit yang terletak di kawasan Salemba, Jakarta Pusat ini. RSCM sering menjadi tempat rujukan dari berbagai rumah sakit di Indonesia.

Awalnya rumah sakit ini bernama Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) yang berarti rumah sakit rakyat. Didirikan tanggal 19 November 1919, selain menjadi tempat pelayanan kedokteran, RSCM juga menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan sekolah kedokteran.

(Baca Juga: Penyakit Psoriasis Tidak Menular, Tapi Dampaknya Ganggu Kesehatan Fisik Dan Mental)

Maret 1942, ketika Indonesia diduduki Jepang, CBZ dijadikan rumah sakit perguruan tinggi (Ika Daigaku Byongin). Pendudukan Jepang tidak ditandai oleh perkembangan baru. Nama rumah sakit diubah menjadi Rumah Sakit Perguruan Tinggi dan Geneeskundige Hoogeschool menjadi Ika Dai Gakku. Sewaktu pendudukan Jepang Dokter Mochtar dari Laboratorium Kesehatan Pusat, dihukum pancung karena dituduh melakukan subversi dan sabot.

(Foto: Wikimedia)

Setelah pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, maka untuk pertama kalinya pimpinan rumah sakit berada di bawah Bangsa Indonesia sendiri. Mulai saat itu RSUP (Rumah Sakit Umum Pusat) bersama Perguruan Tinggi Kedokteran mempertahankan diri terhadap Belanda yang berusaha untuk berkuasa kembali. Pada Februari 1947 Perguruan Tinggi Kedokteran diduduki dengan kekerasan oleh Belanda. Pada peristiwa itu mahasiswa kedokteran, Suluh Hangsono jatuh sebagai korban.

Pada tahun 1945, CBZ diubah namanya menjadi Rumah Sakit Oemoem Negeri (RSON), dipimpin oleh Prof Dr Asikin Widjaya-Koesoema, lalu selanjutnya dipimpin oleh Prof. Tamija. Pada 1950 RSON berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP).

Setelah Belanda mengundurkan diri yaitu setelah “Souvereiniteitserkenning” maka Pimpinan rumah sakit kembali dipegang Bangsa Indonesia. Waktu itu Pimpinan menghadapi tugas yang amat berat, yaitu membangun rumah sakit yang telah mengalami disintegrasi akibat pendudukan Belanda dan Jepang.

Selanjutnya, pada 17 Agustus 1964, Menteri Kesehatan saat itu, Prof Dr Satrio meresmikan RSUP menjadi Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo (RSTM), yakni nama seorang Dokter dan seorang Pahlawan Nasional. Kemudian, sejalan dengan perkembangan ejaan baru Bahasa Indonesia, maka namanya diubah menjadi RSCM. 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement