Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

HARI MERDEKA: 4 Rumah Sakit Ini Menjadi Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia

Tiara Putri , Jurnalis-Rabu, 16 Agustus 2017 |19:17 WIB
HARI MERDEKA: 4 Rumah Sakit Ini Menjadi Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia
Rumah sakit menjadi saksi bisu kemerdekaan Indonesia
A
A
A

4. Rumah Sakit Jiwa Soerojo, Magelang

Pada tahun 1916, Scholtens merencanakan untuk membangun suatu Rumah Sakit Jiwa di Jawa Tengah. Membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakinkan pemerintah Hindia Belanda bahwa ini layak sebagai rumah sakit.

Akhirnya di tahun 1923, pemerintah Hindia Belanda meresmikan rumah sakit jiwa yang terletak 4 kilometer dari pusat kota Magelang ini. Pada awal mula didirikan rumah sakit jiwa ini bernama Krakzinningengesticht Kramat. Setelah beberapa perubahan sesuai dengan perkembangan waktu, baik  sebelum dan sesudah kemerdekaan, namanya kemudian menjadi Rumah Sakit Jiwa Magelang.

(Foto: rssoerojo)

Rumah sakit ini sempat menampung korban letusan Gunung Merapi di tahun 1930. Selain itu, rumah sakit jiwa ini juga pernah digunakan untuk asrama TKR, ALRI, tempat penampungan, dan tempat pengungsian.

Kemudian, pada 22 April 1942, semua tenaga kerja warga negara Belanda, termasuk direkturnya dr. P.J. Stigter, ditahan oleh tentara Jepang sehingga terjadi kekosongan yang mengacaukan pengelolaan Rumah Sakit. Pimpinan Rumah Sakit pada waktu jaman Jepang dipegang oleh dr. Soeroyo.

Pada waktu jaman setelah Proklamasi Kemerdekaan, tentara pendudukan Inggris-Gurkha-Nica masuk ke Magelang. Suasana tegang menyelimuti Rumah Sakit Jiwa Magelang, pegawai dan penduduk berjaga-jaga dengan bambu runcing.

Rumah Sakit Jiwa Magelang digunakan sebagai pos PMI cabang Magelang utara. Rumah direktur dipergunakan markas TKR pada waktu pertempuran di Secang dan Ambarawa terjadi, Rumah Sakit Jiwa Magelang mengirimkan obat-obatan dan tenaga kesehatan.
    
Pada 1946-1950 Rumah Sakit Jiwa Magelang masih diliputi suasana yang tak menentu fungsi Rumah Sakit Jiwa tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, beberapa bangsal terutama bagian depan dalam tahun-tahun tersebut pernah dipergunakan untuk asrama TKR, ALRI, tempat penampungan keluarga Kereta Api, tempat pengungsian penduduk sekitar Rumah Sakit.
    
Disebutkan pula bahwa, kantor Hygiene pernah pula berkedudukan di Rumah Sakit Jiwa Magelang. Selama masa tersebut Rumah Sakit Jiwa Magelang kadang-kadang tidak luput sebagai ajang pertempuran maupun kekacauan. Semua keadaan ini menyebabkan kerusakan bangunan, hancurnya areal perkebunan (kopi, tebu), hilangnya pakaian pasien, perlengkapan terapi kerja dan alat hiburan seperti wayang dan gamelan.

Lalu keadaan rumah sakit berangsur membaik setelah program Repelita. Kini, 15% dari pelayanan rumah sakit juga terbuka untuk pelayanan umum. Tapi sebagian besar masih diperuntukkan untuk pasien di bidang kejiwaan.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement