Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

HARI MERDEKA: 4 Rumah Sakit Ini Menjadi Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia

Tiara Putri , Jurnalis-Rabu, 16 Agustus 2017 |19:17 WIB
HARI MERDEKA: 4 Rumah Sakit Ini Menjadi Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia
Rumah sakit menjadi saksi bisu kemerdekaan Indonesia
A
A
A

3. Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi, Semarang

Pada 1919 tercetuslah gagasan dan rencana dari dr. N.F. Liem untuk mengganti dan menggabungkan Rumah Sakit Kota yang ada di Tawang dengan Rumah Sakit Kota Pembantu di Alun-Alun Semarang. Rencana tersebut dapat diwujudkan dengan membangun sebuah rumah sakit yang lebih besar di kota Semarang. Pembangunan Rumah Sakit dimulai pada 1920 dan selesai 5 tahun kemudian. Maka tepat pada 9 September 1925 lahirlah “ Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting “ yang terkenal dengan nama CBZ. Pada waktu itu kapasitas rumah sakit adalah 500 tempat tidur.

(Foto: semarangtempoedoeloe)

Direktur yang pertama memimpin rumah sakit ini ialah dr. N.F. Liem. Nama dr. Lie mini dan nama isterinya Liembergsma kemudian dipergunakan untuk nama jalan di kompleks perumahan tenaga perawatan. Pada mulanya rumah sakit ini mengutamakan pada fungsi pelayanan medis berupa pengobatan kuratif dan fungsi pendidikan paramedis

Pada masa pendudukan Jepang dari 1942-1945, rumah sakit ini tidak banyak mengalami perubahan. Penguasa Jepang membatasi diri, hanya meneruskan dan menjalankan usaha-usaha yang sudah ada. Dalam periode ini yang perlu dicatat ialah pindahnya poliklinik (1944) dari tempat lama yang semula berdampingan dengan kantor administrasi yang sekarang ke tempat yang baru (unit rawat jalan yang lama).

Hal lain yang perlu dicatat bahwa pada masa tersebut tidak satupun orang Jepang yang bekerja di rumah sakit ini. Hal ini sangat menguntungkan, karena dengan demikian pemuda-pemuda rumah sakit dapat lebih leluasa menggabungkan diri dengan pejuang-pejuang lainnya di kota Semarang.

(Foto: Rsamp)

Sesudah Jepang masuk, dokter-dokter Belanda ditawan, untuk mengisi kekosongan pimpinan rumah sakit maka dr. Notokuworo bertindak sebagai Direktur. Tetapi, tidak lama kemudian pimpinan rumah sakit dipegang oleh dr. Buntaran Martoatmodjo sampai tahun 1945. Di sini dapat dilihat, sejak pemerintah Hindia Belanda menyerah pada Jepang, rumah sakit ini sudah dipimpin oleh bangsa Indonesia sendiri. Pemerintah Jepang mengganti nama CBZ menjadi Purusara singkatan dari Pusat Rumah Sakit Rakyat, di mana dalam bahasa Jepang disebut Chuo Simin Byoing.

Namun, kemudian Jepang dikalahkan oleh Sekutu, di mana pada  saat yang bersamaan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Rupanya pihak Jepang hanya mau tunduk kepada Sekutu, akibatnya meletuslah pertempuran 5 hari di Kota Semarang.

Dokter M. Kariadi bersama 8 orang karyawan rumah sakit lainnya gugur sebagai pahlawan dalam masa pertempuran ini. Kedatangan NICA di kota Semarang tidak dapat ditahan lagi. Banyak dokter dan karyawan perawatan yang meninggalkan kota menuju daerah-daerah Republik. Kemudian banyak di antara mereka mendapat kedudukan yang baik di kalangan militer dan dibidang pemerintahan. Tetapi karyawan lainnya masih diizinkan tetap tinggal di rumah sakit sebagai non kooperator. Mereka tetap republikein di tengah-tengah kekuasaan NICA.

Berhubung dokter Buntaran sudah lebih banyak berada di Jakarta, maka sejak tahun 1945 sampai 1948 rumah sakit ini dipimpin oleh dr. Soekarjo. Sesudah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, maka rumah sakit ini berganti nama menjadi R.S.U.P. singkatan dari Rumah Sakit Umum Pusat Semarang, dan sejak tanggal 14 April 1964 diganti menjadi Rumah Ssakit Dokter Kariadi.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement