Namun, mengapa kaum muda di depan Museum Multatuli di Rangkasbitung tidak mengenal Eduard Douwes Dekker?
Saya bertolak beberapa ratus meter ke SMA Negeri 3 Rangkasbitung dan menjumpai Dedi Sambas, guru sejarah sekolah tersebut. Baginya, kenyataan Multatuli adalah nama yang asing bagi sebagian kaum muda Rangkasbitung tidak mengherankan.
"Kalau mendengar kisah Saijah dan Adinda di dalam novel Multatuli, pasti mereka tahu. Tapi, untuk kedalamannya, kami juga kesulitan. Di mana mencari bukunya? Kecuali kalau buku itu diedarkan dalam jumlah banyak ke setiap sekolah supaya mereka lebih tahu," kata Dedi.
Tertinggal dan miskin
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan kebudayaan tahun 2015, Kabupaten Lebak adalah salah satu daerah dengan populasi buta huruf terpadat di Indonesia dengan 58.224 orang tuna aksara di antara penduduk 1,3 juta jiwa.
Fakta itu diamini Bupati Lebak, Iti Jayabaya. Untuk memberantas buta huruf, dia mengaku memiliki program Lebak Cerdas yang mendatangkan lebih banyak guru dan memberi beasiswa kepada para pelajar untuk merangsang minat belajar.
"Kalau kita tidak persiapkan SDM-nya, kita hanya akan menjadi penonton," kata Iti, di pendopo Museum Multatuli.
Soal mengapa dia mendirikan Museum Multatuli, Iti mengatakan ingin agar penduduk Lebak lebih mengetahui siapa Multatuli. "Justru dengan adanya museum ini, saya berharap penduduk dan kaum muda khususnya bisa mengenal Multatuli," ujar Iti.