Karena pentingnya novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Dan sejak Mei 2017, museum itu telah diresmikan.
Menurut Ubaidillah, museum itu terbagi dalam tujuh ruangan dan empat segmen. Segmen pertama menceritakan sejarah masuknya kolonialisme di Indonesia dan segmen kedua memaparkan Multatuli dan Max Havelaar. Adapun segmen ketiga menuturkan sejarah Banten dan Lebak. Sedangkan segmen terakhir menunjukkan sejarah Rangkasbitung.
Museum Multatuli sejatinya didirikan pertama kali di Amsterdam, Belanda. Kepemilikan Museum Multatuli di Rangkasbitung tidak terkait dengan yang di Amsterdam. Meski demikian pemerintah daerah Lebak mendapat sejumlah hibah dari Museum Multatuli di Belanda.
Hibah itu, menurut Ubaidillah, meliputi novel Max Havelaar berbahasa Prancis cetakan pertama tahun 1868, ubin bekas kediaman Multatuli, litografi Multatuli, dan peta Rangkasbitung abad yang lalu.
Kekurangan buku
Sejak terbit pada 1860, novel Max Havelaar telah dicetak dalam berbagai bahasa. Penerbitan novel itu berdampak luas sehingga melahirkan gerakan Politik Etis atau Politik Balas Budi oleh pemerintah Hindia Belanda.
Di Eropa, lebih dari 100 tahun kemudian, nama Max Havelaar juga diabadikan dalam kebijakan perdagangan yang adil bagi petani. Singkat kata, Multatuli dan Max Havelaar telah mendunia.