Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menelusuri Museum Multatuli Sang "Pembunuh Kolonialisme" di Rangkasbitung

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 06 Juli 2017 |18:06 WIB
Menelusuri Museum Multatuli Sang
A
A
A

TERLETAK di sudut alun-alun Kota Rangkasbitung, Provinsi Banten, sebuah bangunan berarsitektur khas kolonial, memampang aksara besar: 'Museum Multatuli'.

Suasananya sepi ketika saya melangkahkan kaki ke dalam bangunan museum. Di balik pagar, sejumlah anak berseragam sekolah asyik bercengkerama sambil menikmati sepoi angin.

Mereka mengernyitkan dahi ketika saya bertanya soal Multatuli. "Multatuli? Dia siapa ya? Saya tahunya Multatuli nama jalan dan nama museum," kata Indriani, salah seorang perempuan berseragam putih-abu-abu.

Apakah Multatuli diajarkan di sekolah? Indriani menggeleng, begitu pula teman-temannya di sekelilingnya. "Kami nggak pernah diajarin soal Multatuli," ujarnya.

Pengalaman di Rangkasbitung

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

"Dengan Max Havelaar, dia ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Sukarno, untuk memerdekakan Indonesia. Menurut Pramoedya Ananta Toer, Max Havelaar adalah novel yang membunuh kolonialisme," kata Ubaidillah Muchtar, kepala seksi cagar budaya dan museum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Lebak.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement